Yogyakarta, gugat.id – Di penghujung tahun 2024, Kampung Miliran, Muja-Muju, Umbulharjo, Yogyakarta, kembali menggelar Festival Nyekar Bareng untuk ketujuh kalinya. Acara ini akan dilaksanakan pada Selasa, 31 Desember 2024, mulai pukul 15.30 WIB, dengan rute dari Pos Ronda RT 13 hingga Sarean Miliran. Kegiatan ini terbuka bagi seluruh warga Miliran dan masyarakat umum yang ingin bergabung, cukup membawa bunga tabur dan alat kebersihan masing-masing.
Mengusung tema “Menghormati Leluhur adalah Kewajiban, Jangan Lupakan Akarmu,” festival ini bertujuan untuk merekatkan kembali hubungan sosial warga kampung yang selama ini terkotak-kotak oleh pembagian administratif RT dan RW. Ritual ini dimulai dengan pawai keliling kampung sambil membunyikan kentongan dengan irama titir, yang biasanya menjadi tanda bahaya, namun kini diberi makna baru sebagai panggilan positif untuk persatuan dan kebersamaan.
Ketua panitia acara, Supardi, menjelaskan bahwa penggunaan kentongan memiliki filosofi mendalam.
“Kentongan adalah alat komunikasi yang mengakar di budaya kita. Dengan irama titir, kami ingin memanggil seluruh warga untuk keluar rumah, mengusir aura negatif, dan menyambut tahun baru dengan harapan kebersamaan yang lebih erat,” ungkapnya.
Tidak hanya berkeliling kampung, acara dilanjutkan dengan reresik atau bersih-bersih makam dan nyekar bersama di Sarean Miliran. Momentum ini dimanfaatkan sebagai pengingat akan pentingnya mengenal sejarah leluhur dan mempererat hubungan antarwarga.
Para orang tua juga berperan aktif dalam mengenalkan silsilah keluarga kepada generasi muda, menanamkan nilai penghormatan kepada leluhur, dan membangun kesadaran untuk menjaga harmoni kehidupan di dunia maupun setelahnya.
Baca juga: https://www.gugat.id/transformasi-ekonomi-syariah-di-tahun-2024-dari-tantangan-ke-peluang/
Selain itu, Nyekar Bareng di Miliran menjadi cerminan solusi komunal terhadap berbagai tantangan perkotaan. Di tengah riuhnya kota Yogyakarta dengan kemacetan, kriminalitas, dan minimnya ruang publik yang inklusif, Kampung Miliran membuktikan bahwa kehidupan kolektif di tingkat komunitas mampu menjadi oasis kebersamaan.
Saat pejabat pemerintah mengimbau warga untuk “mengalah” kepada wisatawan, Miliran justru mengajak semua orang untuk keluar rumah, membersihkan lingkungan, dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Ritual ini juga menjadi refleksi atas pentingnya kemandirian kampung sebagai pondasi kota.
“Kampung adalah ruh dari kota Yogyakarta. Ketika kampung-kampung kuat dan mandiri seperti Miliran, kita masih punya harapan besar untuk mewujudkan Yogyakarta yang lebih manusiawi dan adil,” tambah Supardi.
Dengan langkah sederhana namun bermakna, Festival Nyekar Bareng #7 bukan hanya menjadi momen kebersamaan warga Miliran, tetapi juga inspirasi bagi kampung-kampung lain untuk menjaga tradisi, solidaritas, dan semangat kolektif dalam kehidupan perkotaan. Semoga inisiatif seperti ini terus tumbuh dan menjadi penggerak perubahan yang lebih baik bagi Yogyakarta di masa depan.
(Redaksi)