Gunungkidul, gugat.id – Sebuah langkah inovatif dilakukan untuk mengembalikan citra positif wisata Pantai Krakal, Gunungkidul, setelah maraknya pemberitaan tentang kecelakaan wisata di kawasan tersebut. PT. Gudang Pariwisata Indonesia bersama MAI Art Indonesia mengambil inisiatif untuk memproduksi web series “MAI Krakal Beach”, yang dikemas dengan konsep edupreneur dan edu tourism.
Menurut Intan Aprilia Minten, produser dari MAI Art Indonesia, proyek ini bertujuan tidak hanya sebagai tontonan hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan promosi wisata yang lebih aman dan menarik bagi wisatawan.
“Upaya ini akan memberikan dampak luas. Wisatawan mancanegara nantinya akan betah menghabiskan waktu liburnya di Krakal dan Gunungkidul pada umumnya,” ujar Intan dalam keterangannya kepada media pada Minggu (2/2/2025).

Libatkan Masyarakat Lokal dan Artis Ibu Kota
Dalam realisasinya, produksi web series ini tak hanya melibatkan para kru profesional, tetapi juga masyarakat lokal serta aparat kepolisian dari Polres Tanjungsari. Hal ini sejalan dengan konsep edutourpreneur, yang menggabungkan pariwisata, edukasi, dan kewirausahaan untuk memberdayakan masyarakat sekitar.
“Pembuatan web series ini berjalan lancar, tanpa kendala berarti. Semua tim produksi, kru, dan peserta dalam kondisi sehat dan sangat terkesan dengan suasana Pantai Krakal. Pasir putihnya, air laut yang jernih, serta ombak yang meliuk-liuk benar-benar memukau semua yang terlibat, termasuk artis ibu kota dan turis asing Paul dari Australia,” jelas Intan.

Edupreneur dan Edu Tourism: Konsep Wisata Berkelanjutan
Melalui proyek ini, PT. Gudang Pariwisata Indonesia ingin menawarkan alternatif wisata yang tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan nilai tambah melalui pendidikan dan kewirausahaan. Paket wisata pendek yang ditawarkan mengajak wisatawan untuk ikut serta dalam kegiatan berbasis edutourpreneur, yang mengajarkan bagaimana wisata dapat dikembangkan dengan tetap memperhatikan aspek edukasi dan keterlibatan masyarakat lokal.
Ciri-Ciri Edutourpreneur:
- Inovatif – Selalu mencari cara baru untuk menggabungkan pendidikan dan pariwisata.
- Kreatif – Mampu menciptakan paket wisata edukatif yang unik.
- Berani Mengambil Risiko – Siap menghadapi tantangan dalam bisnis pariwisata edukatif.
- Memiliki Visi – Berorientasi pada peningkatan kesadaran akan pentingnya pendidikan dan pariwisata.
Contoh Edutourpreneur:
- Pengembang paket wisata edukatif.
- Pemilik biro perjalanan yang menyediakan wisata edukatif.
- Pengarang buku panduan wisata edukatif.
- Pengembang aplikasi wisata edukatif.
- Konsultan pariwisata edukatif.
Keuntungan dan Tantangan dalam Mengembangkan Edutourpreneur
Seiring berkembangnya tren wisata edukatif, konsep edutourpreneur menawarkan berbagai keuntungan, seperti:
✔ Meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan dan pariwisata.
✔ Membuka peluang bisnis baru di sektor pariwisata.
✔ Meningkatkan penghasilan masyarakat lokal melalui keterlibatan dalam wisata.
✔ Membangun reputasi sebagai ahli pariwisata edukatif.
✔ Meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian budaya dan lingkungan.
Namun, ada juga sejumlah tantangan yang harus dihadapi, di antaranya:
❌ Persaingan yang ketat di industri pariwisata.
❌ Kesulitan dalam mengembangkan konsep wisata edukatif yang menarik.
❌ Perubahan kebijakan pemerintah terkait pariwisata.
❌ Tantangan dalam mempromosikan paket wisata edukatif kepada wisatawan.
❌ Kesulitan dalam pengelolaan keuangan dan investasi bisnis wisata.
Baca juga: https://www.gugat.id/bupati-gunungkidul-kukuhkan-pengurus-fprb-perkuat-kesiapsiagaan-bencana/
Bangun Wisata Berkelanjutan di Gunungkidul
Dengan adanya web series “MAI Krakal Beach”, diharapkan wisata Pantai Krakal dapat semakin dikenal dengan citra positif yang lebih kuat. Sinergi antara seni, budaya, dan pariwisata tidak hanya menarik lebih banyak wisatawan tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
PT. Gudang Pariwisata Indonesia dan MAI Art Indonesia percaya bahwa pendekatan edutourpreneur dapat menjadi solusi jangka panjang untuk membangun ekosistem wisata yang lebih berkelanjutan, menguntungkan, dan tetap menjaga kearifan lokal.
(Redaksi)