YOGYAKARTA, gugat.id – Perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia terus menunjukkan tren positif meski tantangan era disrupsi kian kompleks. Masyarakat Ekonomi Syariah Daerah Istimewa Yogyakarta (MES DIY) menegaskan komitmennya untuk menjadi motor penggerak literasi, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor. Hal itu tercermin melalui keterlibatan MES DIY sebagai narasumber dalam Webinar Nasional Stadium Generale bertema “Mendorong Kreativitas Inovatif dalam Perbankan dan Ekonomi Syariah di Era Disrupsi” yang digelar Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam (STEBI) Al Muhsin Yogyakarta, Selasa (23/9).
Acara yang dilaksanakan secara daring melalui Google Meet ini diikuti lebih dari 47 partisipan, mulai dari mahasiswa, akademisi, praktisi hingga masyarakat umum yang peduli pada pengembangan ekonomi syariah.
Dalam sambutannya, Ketua STEBI Al Muhsin, Dr. St. Habibah, S.Ag., M.Hum., M.A., menekankan pentingnya pendidikan tinggi Islam sebagai garda terdepan dalam mencetak generasi kreatif dan inovatif berbasis nilai syariah. “Di era disrupsi, pendidikan tinggi Islam harus menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi kreatif, inovatif, sekaligus berakar pada nilai-nilai syariah. Karena itu, kami mengundang narasumber dari berbagai latar belakang agar para mahasiswa dapat menyerap pengalaman nyata dan praktik terbaik di lapangan,” ujarnya.
Sesi narasumber pertama diisi oleh Isdiarto, S.Pd., M.Pd., dosen STEBI Al Muhsin, yang menyoroti peran dunia pendidikan sebagai laboratorium ide dan inovasi dalam melahirkan solusi di bidang keuangan syariah. Dilanjutkan oleh Fadhil Akmali Zaidan, S.Kesos. dari Muamalat Institute yang menekankan pentingnya capacity building generasi muda untuk menghadapi kompetisi global di industri perbankan syariah.
Puncak acara menghadirkan Dandan Hermawan, Sekretaris Umum MES DIY, yang memaparkan materi “Kiprah MES DIY dalam Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah di Era Disrupsi.”

Dandan menegaskan MES DIY bukan sekadar wadah diskusi, melainkan sebuah ekosistem yang menghubungkan berbagai aktor ekonomi syariah di tingkat lokal, nasional, hingga internasional. Ia juga memaparkan data terkini perkembangan keuangan syariah nasional 2024–2025, di antaranya total aset keuangan syariah nasional mencapai Rp9.927 triliun atau setara 45% PDB nasional, dengan pertumbuhan 11,8% secara tahunan.
“Angka-angka ini menunjukkan bahwa ekonomi syariah bukan lagi alternatif, tetapi arus utama yang mampu menopang stabilitas ekonomi nasional,” tegas Dandan.
Ia juga menyoroti tantangan literasi dan inklusi keuangan syariah, meski indeks terus membaik. Menurutnya, DIY memiliki potensi besar di sektor halal mulai dari industri makanan, pariwisata halal hingga modest fashion.
Dalam paparannya, Dandan menekankan peluang sekaligus tantangan era disrupsi. “MES DIY hadir sebagai jembatan agar disrupsi tidak menjadi ancaman, tetapi peluang emas untuk memperkuat daya saing ekonomi syariah,” tambahnya.
Baca juga: https://www.gugat.id/pemkot-palembang-optimalkan-pbb-p2-pastikan-tidak-bebani-petani-dan-peternak/
Acara yang ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif ini melahirkan harapan besar agar sinergi antara STEBI Al Muhsin, Muamalat Institute, MES DIY, dan para pemangku kepentingan ekonomi syariah semakin erat.
Dalam pesannya, Dandan mengajak mahasiswa untuk terlibat aktif. “MES DIY sangat terbuka untuk anak muda khususnya teman-teman dari STEBI Al Muhsin yang ingin mengasah soft skill dan berjejaring dengan para pegiat ekonomi syariah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan ikut terlibat dalam event atau project dari MES DIY,” pungkasnya.
Webinar nasional ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan organisasi masyarakat dapat memperkuat ekosistem ekonomi syariah di tengah derasnya arus disrupsi global.
(Redaksi)