YOGYAKARTA, gugat.id – Tepat pukul 05.53 WIB pada Sabtu pagi, 27 Mei 2006, tanah Yogyakarta berguncang hebat. Dalam 57 detik, gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,3 meluluhlantakkan ribuan rumah, memporak-porandakan infrastruktur, dan merenggut lebih dari 5.700 nyawa. Bencana tersebut tercatat sebagai salah satu gempa paling mematikan di dunia pada awal abad ke-21.
Gempa tersebut bersumber dari aktivitas Sesar Opak, yang melintang dari Klaten, Jawa Tengah hingga lepas pantai Bantul, DIY. Pusat gempa berada di wilayah Potrobayan, Kecamatan Pundong, Bantul—daerah yang kemudian menjadi salah satu titik terdampak paling parah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa ini menimbulkan dampak sangat besar karena episentrumnya dangkal dan dekat dengan permukiman padat penduduk. Kerusakan besar terjadi di Kabupaten Bantul, di mana tercatat lebih dari 4.000 jiwa menjadi korban meninggal dunia. Ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal, ribuan lainnya luka-luka, trauma pun membekas hingga kini.
“Getaran gempa itu seperti menghancurkan semuanya dalam sekejap. Saya kehilangan rumah, keluarga, dan rasa aman,” kenang seorang warga Pundong yang selamat dari peristiwa itu.

Kini, 19 tahun telah berlalu. Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Sekretariat Daerah mengajak masyarakat untuk mengenang peristiwa itu melalui doa bersama. Agenda refleksi digelar Senin malam, 26 Mei 2025 pukul 19.30 WIB di Pendhapa Parasamya, Kompleks Kantor Bupati Bantul. Dalam surat undangan resmi, masyarakat diminta mengenakan pakaian atau kaos instansi sebagai bentuk partisipasi dan solidaritas.
Kepala BPBD DIY, melalui referensi dokumen resmi, menjelaskan bahwa salah satu faktor tingginya angka korban jiwa saat itu adalah karena banyaknya bangunan yang tidak tahan gempa. Gempa ini juga menjadi yang paling mematikan kedua di Indonesia setelah gempa dan tsunami Aceh 2004.

Studi terbaru yang dilakukan oleh Hilmiyati Ulinnuha dan tim pada 2022 menunjukkan bahwa Sesar Opak masih menyimpan potensi aktivitas seismik di masa mendatang. Diperkirakan, segmen selatan yang pernah aktif pada 2006—mencakup wilayah Bantul—memiliki potensi mengulang kejadian serupa dalam siklus 130 tahun. Sementara segmen utara, meliputi Sleman dan Klaten, memiliki siklus sekitar 60 tahun.
“Secara ilmiah, gempa memang tidak bisa diprediksi dengan pasti kapan akan terjadi. Tapi kita bisa memahami pola dan potensi wilayah rawan, agar masyarakat lebih siap dan waspada,” tulis akun @infogempadunia dalam unggahannya mengenang tragedi tersebut.

Selain membawa duka mendalam, gempa 27 Mei 2006 juga menjadi tonggak perubahan. Dari reruntuhan dan kehancuran, lahir semangat baru. Solidaritas, gotong royong, dan ketangguhan warga menjadi pemandangan luar biasa saat itu. Dunia menyaksikan bagaimana Yogyakarta bangkit, satu per satu puing dibersihkan, satu demi satu harapan dibangun kembali.
“Kami kehilangan banyak, tapi kami tidak kehilangan harapan,” ujar seorang relawan yang turut membantu pemulihan pascagempa.
Peringatan 19 tahun gempa ini bukan sekadar mengenang tragedi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana adalah tanggung jawab bersama. Edukasi, pembangunan berbasis keselamatan, dan kesadaran kolektif harus terus ditanamkan.
Hari ini, Yogyakarta berdiri lebih kuat. Luka mungkin belum sepenuhnya sembuh, tapi semangat untuk bertahan dan bangkit tetap menyala—seperti cahaya yang tak pernah padam.
Sumber: BMKG, BPBD DIY, Studi Hilmiyati Ulinnuha dkk (2022), @infogempadunia, catatan sejarah 27 Mei 2006.
(Redaksi)