Cing Cing Goling, Tradisi Ungkapan Syukur Panen di Gedangrejo |

Cing Cing Goling, Tradisi Ungkapan Syukur Panen di Gedangrejo

By

GUNUNGKIDUL, gugat.id – Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak hanya dikenal dengan panorama wisatanya, tetapi juga memiliki kekayaan budaya Jawa yang masih terjaga hingga kini. Salah satunya adalah tradisi upacara adat Cing Cing Goling yang diwariskan masyarakat Kalurahan Gedangrejo, Kapanewon Karangmojo.

Upacara adat ini digelar setahun sekali, tepat setelah panen kedua pada bulan Juni hingga Agustus. Masyarakat melaksanakan ritual tersebut sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen padi yang melimpah.

“Upacara adat Cing Cing Goling juga merupakan bentuk penghormatan kepada tokoh penting yaitu Ki Wisang Sanjaya,” ungkap Suwikyo, salah satu tokoh budaya, saat ditemui di sela-sela upacara, Kamis (21/8/2025).

Ia menuturkan, Ki Wisang Sanjaya adalah prajurit dari Kerajaan Majapahit. Bersama istrinya, Yodipati, ia mengungsi ke arah barat ketika Majapahit berperang melawan Kerajaan Demak. Keduanya kemudian menetap di sekitar Kali Dawe, Padukuhan Gedangan, Kalurahan Gedangrejo, dan mulai membuka lahan pertanian. Seiring waktu, daerah tersebut menjadi subur dengan hasil pertanian yang berlimpah.

Namun, kehidupan damai itu sempat terusik ketika Yodipati diburu sekelompok perampok yang terpesona akan kecantikannya. “Karena diburu oleh perampok, Yodipati pun lari dengan ‘cincing’, atau dalam bahasa Indonesia mengangkat kain jarik sedikit. Perampok itu terus mengejar Yodipati, karena akalnya telah goling tanpa terkendali,” jelas Suwikyo.

Melihat istrinya terancam, Ki Wisang Sanjaya menunjukkan kesaktiannya hingga membuat para perampok panik dan akhirnya berhasil ditaklukkan. Sejak saat itu, keduanya hidup tenteram dan damai di wilayah tersebut.

Baca juga: https://www.gugat.id/job-hugging-ketika-pekerjaan-sulit-dilepaskan/

Dalam pelaksanaannya, upacara adat Cing Cing Goling diawali dengan kirab budaya yang diikuti masyarakat. Warga membawa ingkung sebagai sesaji yang kemudian didoakan oleh pemangku adat, sebelum dibagikan kembali kepada warga.

“Harapan dalam menyajikan ingkung antara lain adalah doa untuk keselamatan, kesejahteraan, rezeki yang melimpah, keharmonisan keluarga, kesatuan, dan kerukunan, serta kepasrahan total kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tutur Suwikyo.

(Redaksi)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like

Hot News

Instagram
WhatsApp
Tiktok
error: Content is protected !!