SURAKARTA , Gugat.id – UPA Perpustakaan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menggelar Seminar Nasional Perpustakaan dan Call for Paper bertajuk “Artificial Intelligence sebagai Mitra Perpustakaan: Membangun Layanan Perpustakaan yang Adaptif, Inovatif, dan Berdampak”, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Pascasarjana ISI Surakarta itu dibuka Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat ISI Surakarta, Dr. Drs. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum. Seminar diikuti lebih dari 50 peserta yang terdiri atas pustakawan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Seminar menghadirkan Dr. Arief Wicaksono, M.Hum., Pustakawan Ahli Madya Perpusnas RI, serta Sony Pawoko, S.Sos., M.TI., Pustakawan Universitas Indonesia. Dalam sambutannya, Zulkarnain mengatakan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi bagian penting dalam transformasi perpustakaan konvensional menuju smart library.
Menurutnya, AI dapat membantu perpustakaan menghadirkan layanan digital yang lebih cerdas, dinamis, dan adaptif. Teknologi tersebut memungkinkan sistem memahami konteks pencarian pengguna sehingga informasi yang disajikan menjadi lebih relevan. “AI memiliki potensi besar untuk memperbaiki pelayanan dan memenuhi kebutuhan pemustaka,” ujarnya.
Meski menawarkan berbagai kemudahan, Zulkarnain mengingatkan penerapan AI juga menghadirkan tantangan, terutama terkait penyebaran hoaks, manipulasi informasi, dan deepfake. Karena itu, pustakawan dituntut mampu menyaring serta memastikan informasi yang diterima pemustaka tetap valid.

Sementara itu, Arief Wicaksono menempatkan AI sebagai mitra pustakawan, bukan pengganti. AI, kata dia, dapat mendukung pekerjaan profesional pustakawan, mulai dari pelayanan, pengolahan dan analisis informasi, pembuatan konten, dukungan bahasa hingga pengembangan sistem. “Dengan AI, layanan perpustakaan dapat menjadi lebih adaptif, inovatif, dan berdampak,” katanya.
Hal senada disampaikan Sony Pawoko. Menurutnya, AI akan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia literasi. Kehadiran AI tidak serta-merta menggantikan pustakawan, tetapi dapat membantu berbagai pekerjaan di perpustakaan. Ia menilai kemampuan pustakawan memahami AI menjadi semakin penting, terutama dalam menghadapi tantangan literasi media dan informasi di tengah perkembangan otomatisasi.
Ketua Panitia Seminar Nasional dan Call for Paper, Wahyu Karminah, S.Sos., M.I.Kom., mengatakan perkembangan teknologi digital dan AI membuka peluang besar bagi perpustakaan untuk meningkatkan kualitas layanan, mempercepat akses informasi, mengoptimalkan pengelolaan koleksi, serta memberikan pengalaman yang lebih personal kepada pemustaka.
Namun, penerapan AI tetap membutuhkan kesiapan sumber daya manusia, pemahaman etika, keamanan informasi, serta kemampuan memilih teknologi secara tepat. “AI perlu ditempatkan sebagai mitra pustakawan, bukan sebagai pengganti peran pustakawan,” jelasnya.
Kepala UPA Perpustakaan ISI Surakarta, M. Ali Nurhasan Islamy, S.Sos., M.A., mengatakan seminar tersebut merupakan bagian dari komitmen UPA Perpustakaan ISI Surakarta dalam meningkatkan kompetensi dan wawasan insan perpustakaan.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan pengetahuan dan pencerahan bagi seluruh peserta dalam menghadapi perkembangan AI di dunia perpustakaan. Ali juga menyampaikan apresiasi kepada para narasumber, moderator, panitia, pustakawan, serta Duta Perpustakaan ISI Surakarta yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan. CP: Ali – 085642370005
(Red)