YOGYAKARTA, gugat.id – Komitmen untuk memperkuat ekosistem halal terus digaungkan. Kali ini, BPD DIY Syariah bersama Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY dan Paguyuban Global Gotong Royong Tetrapreneur (G2RT) DIY menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Komitmen Kawasan Halal (KKH) dan G2RT Berorientasi Ekspor” pada Rabu (9/7/2025) di Lounge Lantai 2, BPD DIY Syariah, Jalan Magelang KM 5,5, Yogyakarta.
FGD ini menjadi bagian dari rangkaian Road to the 3rd International Conference on Islamic and Halal Economic Studies (ICIHES) 2025, yang juga menyasar konsolidasi pasar global, terutama di Timur Tengah. Empat agenda strategis menjadi fokus pembahasan: Halal Business Plan Competition (HBPC), Komitmen Kawasan Halal (KKH) DIY × G2RT MES DIY, Pemilihan Duta Halal MES DIY, dan Penghargaan Tokoh Penggerak Halal DIY.
Paparan utama disampaikan oleh Ketua Departemen Industri Halal MES DIY, Rika Fatimah P.L., ST., M.Sc., Ph.D., yang juga merupakan konseptor G2RT Tetrapreneur dan dosen senior FEB UGM. Ia menyampaikan bahwa sinergi halal memiliki masa depan strategis dan tidak bisa dilepaskan dari dukungan seluruh lapisan, termasuk lembaga keuangan.
“Industri halal memiliki masa depan utama dalam perekonomian global. Syiar isu-isu halal tercermin dalam rangkaian Road to the 3rd ICIHES 2025 dengan melibatkan berbagai pemangku kebijakan bersama penyertaan kaum muda dan masyarakat luas. Salah satunya dukungan lembaga keuangan perbankan dalam edukasi hijrah ke perbankan syariah,” ungkap Rika.
Dalam agenda KKH 2025, dua kawasan utama yang telah mengimplementasikan model G2RT akan menjadi pilot project tata kelola halal berbasis desa: Wukirsari di Bantul dan Salamrejo di Kulon Progo. Ir. Edy Muhammad menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah daerah. “Antusias penggiat G2RT DIY bersama unsur pemerintah setempat diharapkan menjadi inisiatif strategis karena syiar KKH menaungi wilayah dampingan Pemda DIY sehingga tercipta keberlanjutan dan berketahanan.”
Ajang Halal Business Plan Competition turut menyasar pelajar SMA/SMK dan mahasiswa sebagai penggerak generasi baru ekonomi halal. Tak hanya itu, melalui Duta Halal MES DIY dan pemberian apresiasi kepada tokoh penggerak halal, kegiatan ini ingin membangun budaya halal sebagai gaya hidup.
Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi dari Departemen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif MES DIY menyoroti pentingnya edukasi halal pada sektor wisata. “Masyarakat masih memandang desa wisata halal sebagai sesuatu yang eksklusif, sehingga para pelaku wisata masih ragu untuk mengimplementasikan kehalal-an pada destinasi maupun fasilitas wisata lainnya.”
Rika Fatimah juga menegaskan bahwa produk unggulan G2RT bukanlah produk biasa, tetapi terlahir dari proses unik berbasis kearifan lokal. “Proses bisnis yang bergotong royong ini menjadi daya tarik pada pasar global, terutama di Kairo, Dubai, Abu Dhabi, dan Jeddah. Apalagi akan diluncurkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) baru, yaitu SNI G2RT.”
Sementara itu, Budi S. Kurniawan menyoroti tantangan pelaku UMKM kecil dalam memenuhi standar produksi halal. “Jangankan dapur khusus produksi, kadang yang industri kecil saja dapurnya masih jadi satu. Sementara syarat perizinan harus berbeda. Bagaimana mereka mau memikirkan keberlanjutan kalau masih berkutat soal dapur?”
Senada, Pratomo Anggo Wibowo dari BPD Syariah DIY mencatat bahwa keberlanjutan produksi menjadi kendala utama pelaku usaha binaan. “Selama mendampingi binaan BPD Syariah ini, permasalahannya sama. Hari ini bisa produksi, minggu depan atau besok belum tentu bisa.”
FGD ini dihadiri oleh sejumlah tokoh dari berbagai sektor yang memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi halal, termasuk akademisi, pelaku usaha, perwakilan paguyuban G2RT se-DIY, serta pemerintah kalurahan.
Rangkaian kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem halal di DIY menjadi lebih kompetitif, inklusif, dan siap menjangkau pasar global. Semangatnya satu: gotong royong untuk masa depan ekonomi syariah yang berkelanjutan.
(Redaksi)