Papua, gugat.id – Hari ini, Selasa, 16 September 2025, duka mendalam menyelimuti Kabupaten Yalimo, Elelim. Kerusuhan pecah antara siswa SMA dan warga non-Papua (pendatang), yang berujung pada bentrokan sengit dengan aparat TNI/POLRI.
Pemicunya adalah ucapan rasis seorang siswa pendatang (Non-OAP) yang melontarkan kata “monyet” kepada seorang siswa SMA (OAP). Kata-kata ini menyulut amarah yang telah lama terpendam akibat tekanan stigma rasial dan diskriminasi yang dialami siswa-siswi Papua. Sebagai bentuk perlawanan, massa pelajar melakukan pembakaran terhadap beberapa rumah warga di Elelim.

Situasi semakin memanas ketika aparat keamanan, bersama warga non-Papua, terlibat dalam aksi saling serang dengan para pelajar dan masyarakat lokal. Aparat TNI/POLRI merespons dengan brutal, menggunakan kekerasan dan penembakan. Dalam bentrokan tersebut, seorang siswa bernama Sadrak Yohame tewas setelah ditembak oleh aparat di lokasi kejadian.
Kematian Sadrak Yohame menambah daftar panjang korban kekerasan negara di Tanah Papua. Aparat militer dan kepolisian terus menggunakan pendekatan represif, bahkan terhadap anak-anak sekolah. Tragedi ini adalah bukti nyata bahwa diskriminasi rasial dan rasisme bukanlah kasus terpisah, melainkan bagian dari pola kolonialisme dan penjajahan yang dialami bangsa Papua Barat. Kata “monyet” bukan sekadar hinaan, tetapi simbol rasisme struktural yang telah lama digunakan untuk merendahkan martabat orang Papua, sekaligus menjadi alasan negara membungkam perlawanan dengan kekerasan.
Peristiwa di Elelim menegaskan kembali bahwa konflik di Papua Barat bukanlah sekadar masalah kriminalitas biasa, melainkan berakar pada penjajahan, rasisme, dan militerisme yang terus dipelihara oleh negara. Aparat yang seharusnya melindungi justru menjadi mesin penindasan, sementara suara protes generasi muda Papua Barat dibungkam dengan peluru.
Kami menyerukan kepada berbagai media, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas internasional untuk memberikan perhatian serius terhadap kasus ini. Kematian seorang pelajar Papua tidak boleh hanya dilihat sebagai insiden lokal, melainkan sebagai bukti nyata bahwa bangsa Papua Barat terus hidup dalam bayang-bayang kekerasan kolonial.
Sadrak Yohame telah gugur sebagai korban rasisme dan militerisme. Papua berduka, tetapi juga menegaskan bahwa perlawanan atas penindasan tidak bisa dipadamkan dengan peluru.
“Sejatinya, anak kandung daripada Kolonialisme/Penjajahan adalah Rasisme!”
(Red)