Sleman, gugat.id – Media sosial dapat digunakan untuk komunikasi dan koneksi, untuk mendapatkan informasi dan berita, pengembangan bisnis, pendidikan dan pembelajaran, serta hiburan. Hal ini disampaikan oleh Arif Lukman Hakim yang merupakan Digital PR Team Member Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam Workshop Literasi Digital: Literasi Digital untuk Anak dan Remaja pada Jumat (29/9/2023) di Kampus Terpadu UWM, Banyuraden, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental yang diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Forum Rektor Indonesia.
Acara ini diawali dengan sambutan dari Wakil Rektor III Universitas Widya Mataram (UWM), Puji Qomariyah. Acara ini juga menghadirkan narasumber Reren Indranila yang merupakan pimpinan redaksi Radar Digital dan Filosa Gita Sukmono yang merupakan Dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Arif kemudian mengemukakan bahwa media sosial dapat digunakan untuk empowering, yaitu mendesentralisasi produk konten dan memberikan kesempatan yang sama kepada penggunanya.
“Dapat juga digunakan untuk distribusi atau broadcasting yang real-time dan menargetkan konten sesuai dengan preferensi,” tambahnya.

Ada beberapa dampak negatif media sosial, khususnya bagi kalangan mahasiswa. “Kecanduan media sosial dapat berarti lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk online dan lebih sedikit waktu yang dihabiskan untuk belajar. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mengganggu manajemen waktu mahasiswa, yang selanjutnya mempengaruhi kinerja akademik,” kata Arif.
Kecanduan media sosial dapat mengganggu pekerjaan mahasiswa dengan mengalihkan perhatian mereka dan membuat mereka tidak dapat fokus. Mahasiswa yang kecanduan media sosial akan mudah terganggu, sehingga sulit bagi mereka untuk mengingat apa yang mereka pelajari.
Baca juga: https://www.gugat.id/dprd-gunungkidul-bahas-9-raperda-dan-targetkan-propemperda-tercapai/
“Jogja masih diliputi beberapa masalah. Mari identifikasi, kaji, dan carikan solusi. Tawarkan gagasan ala mahasiswa kepada pemerintah dan masyarakat melalui media sosial kemudian kolaborasikan,” tutupnya.
(Red/Humas UWM)