Yogyakarta, gugat.id – Warga Kampung Balirejo mengadakan larung kali dan kirab budaya yaitu mengarak hasil bumi yang dihasilkan dari air dan sekitar Kali Gajahwong, serta doa bersama lintas agama di RT 53 Balirejo, Muja Muju, Umbulharjo, Yogyakarta, Minggu (29/10/23).
Ketua pemuda setempat Nugroho Rusdiyanto, kepada pewarta menyampaikan rasa syukur atas limpahan anugrah alam berupa air, tak terkecuali juga ingin disampaikan oleh warga Balirejo yang hidup di sekitar bantaran Kali Gajahwong
Semua harapan yang baik bagi Yogyakarta, baik warga maupun lingkungannya, itu dihadirkan sebagai optimisme ketika daerah ini masih berkubang dalam kompleksitas masalah yang tidak kunjung terurai. Menaruh harapan kepada pangreh praja dan pamong praja.
“Dalam era demokrasi berbalut kultur feodal di DIY, ternyata belum kunjung menghasilkan bukti perubahan. Masalah sosial menumpuk tak tertangani, hingga terungkapnya tindak pidana korupsi dalam lingkaran mafia perizinan yang menjerat mantan Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti, mendorong warga untuk berefleksi dan mencari cara berbenah sendiri”.

Rute arak-arakan dimulai dari Pendopo Balirejo RT 53 –Jl. Inspeksi Gajahwong – RT 54 Sidobali – Dronjongan RS Sudirman – SPBMA –Jl. Balirejo – Simpang Lima Balirejo – Jembatan Sokowaten –Jl. Inspeksi menyusuri pinggir Kali Gajahwong lalu finish kembali ke tempat start.
Dengan memakai pakaian adat Surjan dan Kebaya, larung kali Gajahwong ini mengandung beragam makna dan filosofis yang hendak disampaikan oleh warga. Ada 3 tumpeng yang menjulang ke atas, yang akan dijadikan makanan bersama setelah keliling kampung dan 1 tumpeng besar akan diarak keliling kampung ini, bermakna warga memohon kepada “Yang di Atas”, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Doa lintas agama akan dipanjatkan sebagai bentuk puji syukur dan terima kasih untuk bumi dan memohon pertolongan Tuhan untuk mengusir semua hal buruk yang merusak kampung. Beragam hal negatif yang merusak keharmonisan hubungan, baik antara sesama warga maupun antara warga dengan lingkungan akan didoakan agar dihindarkan dari kampung Balirejo.

Tinggal di wilayah perkotaan tidak menjadikan warga setempat abai dengan sungai karena ada banyak manfaat yang dapat dirasakan. Tidak hanya menyediakan beragam satwa, seperti ikan, udang, dan belut yang dapat dikonsumsi warga, sungai ini juga menjadi sumber material pasir dan batu untuk bangunan. Warga juga memanfaatkan sebagian lahan di sekitar aliran sungai untuk bertani. Semakin marak juga kelompok warga yang menyulap bantaran sungai yang dulu dianggap kotor dan wingit, menjadi ruang publik yang bersih dan nyaman untuk dikunjungi.
Baca juga: https://www.gugat.id/prevalensi-stunting-diy-sumbang-penurunan-angka-nasional/
Larung kali ini ditujukan tidak sekadar untuk memanjatkan rasa syukur dan doa kepada Tuhan dan alam, tetapi juga menjadi sarana memelihara kerukunan warga sekitar bantaran sungai agar dapat terus bersama-sama menjaga kelestarian Kali Gajahwong. Ritual ini juga diharapkan dapat menjadi undangan bagi warga, baik di hulu maupun hilir Kali Gajahwong lintas wilayah, untuk selalu bersama-sama menjaga aliran sungai ini dari ancaman bencana alam dan pencemaran.
Doa dan harapan dari Gajahwong ini semoga dapat menjadi energi positif di tengah banyaknya permasalahan dan situasi penuh ketidakpastian. Memelihara solidaritas sebagai sesama warga yang hidup di bumi Yogyakarta yang diwujudkan dalam beragam cara, simbolis maupun praktis, akan menguatkan kesiapan menghadapi kehidupan penuh tantangan ke depan.
Narasumber : Nugroho Rusdiyanto.
(Redaksi)