Surakarta, Gugat.id -Pernahkah Anda melakukan checkout belanjaan di e-commerce pada tengah malam, dan keesokan harinya merasa biasa saja, padahal nominal yang dikeluarkan lumayan besar? Namun, bayangkan jika di momen yang sama Anda harus mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan secara fisik dari dompet Anda. Rasanya pasti jauh lebih berat, bukan?
Selamat datang di era “Amnesia Finansial.”
Di zaman di mana transaksi bisa selesai hanya dengan memindai wajah atau sidik jari, batas antara “ingin” dan “mampu” menjadi sangat kabur.
Secara perlahan, teknologi telah mengubah cara otak kita memproses nilai uang, menggeser aktivitas belanja dari sesuatu yang penuh pertimbangan menjadi serangkaian klik yang mati rasa.
Dalam psikologi ekonomi, ada sebuah istilah bernama Pain of Paying (Rasa Sakit Membayar). Secara harfiah, saat kita mengeluarkan uang, bagian otak kita yang bernama insula (area yang juga merespons rasa sakit fisik) akan aktif.
Dulu, uang tunai adalah standar tertinggi dari rasa sakit ini. Saat berbelanja, kita melihat wujud fisik uang kita, menyentuh tekstur kertasnya, menyerahkannya, dan secara instan melihat isi dompet kita menipis. Ada efek sensorik yang kuat di sana. “Rasa sakit” inilah yang sebenarnya merupakan anugerah; ia berfungsi sebagai rem alami agar kita tidak kalap berbelanja.
Namun, inovasi pembayaran perlahan bertindak layaknya obat bius (anestesi) yang mematikan rasa sakit tersebut.
Jika kita mengamati evolusi alat pembayaran, kita sedang melihat bagaimana teknologi perlahan-lahan menjauhkan kita dari realitas uang kita sendiri. Kartu kredit memperkenalkan konsep pisah-waktu. Kita menikmati barangnya hari ini, tetapi “sakitnya” membayar ditunda hingga akhir bulan. Karena waktu konsumsi dan waktu bayar berjauhan, otak kita gagal menghubungkan kebahagiaan berbelanja dengan kenyataan berkurangnya saldo.
Berikutnya adalah Buy Now Pay Later / BNPL. Inilah anestesi finansial generasi terbaru yang sangat digandrungi Milenial dan Gen Z. Paylater adalah sihir psikologis. Ia memecah angka jutaan rupiah menjadi cicilan puluhan ribu yang terlihat sangat ringan dan tidak mengancam. Ditambah fitur langganan otomatis (auto-debet), kita benar-benar kehilangan jejak kumulatif pengeluaran. Keputusan finansial besar disamarkan menjadi klik-klik kecil yang sama sekali tidak menyakitkan.
Selanjutnya yaitu Scan QRIS dan Koin Game.
Mari kita lihat fenomena koin virtual di dalam game atau aplikasi. Ketika Rupiah diubah menjadi “Diamond” atau “Koin Emas“, nilai intrinsik uang tersebut menguap di kepala pengguna. Kita tidak merasa sedang menghamburkan uang, melainkan sekadar bermain.
Hal serupa terjadi pada QRIS. Memindai barcode terasa lebih mirip seperti aktivitas bermain media sosial ketimbang sebuah transaksi finansial yang serius. Tidak ada uang yang berpindah tangan, tidak ada kembalian yang dihitung, hanya notifikasi kecil berbunyi “Berhasil“.
Mengembalikan “Rasa Sakit” yang Sehat
Pergeseran menuju cashless society dan kemudahan cicilan memang luar biasa efisien untuk memutar roda ekonomi. Namun, sebagai individu, kita sedang menghadapi risiko besar, tumpukan utang yang tidak disadari dan gaya hidup impulsif akibat hilangnya hambatan psikologis.
Lalu, apa solusinya? Tentu bukan kembali ke zaman batu dan membawa gepokan uang tunai ke mana-mana.
Kita harus belajar untuk secara sadar mengembalikan “rasa sakit yang sehat” itu.
Literasi keuangan modern tidak lagi sekadar menabung, tetapi bagaimana kita memvisualisasikan pengeluaran digital kita. Mulailah rutin memeriksa mutasi rekening, hindari memecah-mecah pembayaran untuk barang konsumtif, dan buatlah batas limit harian pada dompet digital Anda.
Kita harus selalu mengingatkan diri sendiri bahwa dibalik layar smartphone yang mulus dan kemudahan satu kali klik, uang yang kita keluarkan adalah hasil keringat yang nyata. Hanya karena bayarnya tidak terasa, bukan berarti uangnya gratis.
Fajar Santoso
Dosen UIN Raden Mas Said Surakarta