Yogyakarta, gugat.id – Global Gotong Royong Tetrapreneur Masyarakat Ekonomi Syariah (G2RT MES) DIY terus memperkuat langkahnya dalam membangun ekosistem ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui silaturahim strategis bersama Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag RI) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) DIY Syariah, G2RT MES DIY mendorong inisiasi pembentukan pasar kebijakan dan pasar non-kompetisi sebagai wujud nyata ekonomi bergotong royong.
Pertemuan dengan Irman Adi Purwanto Moefthi, S.E., M.Sc., selaku Analis Perdagangan Ahli Madya dari Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag RI, dan Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D., Founder sekaligus Konseptor G2R Tetrapreneur dan Ketua Departemen Industri Halal MES DIY, menghasilkan gagasan bersama untuk membangun pasar global melalui kemitraan yang erat dengan pemerintah.
“Menembus pasar global itu mudah jika pemerintah sudah bergerak, source mereka banyak dan lebih luas dari masyarakat. Jika dilaksanakan dengan baik bisa dikatakan sebagai gotong royong dalam ekonomi secara nasional. Jika dilakukan mandiri oleh pelaku usaha, yang ada adalah gerakan kecil-kecil yang dampaknya akan terlihat lama,” tutur Rika Fatimah.
Senada dengan itu, Irman Adi menekankan pentingnya pendidikan ekonomi secara menyeluruh dalam model G2R Tetrapreneur. “Efektivitas pelaksanaan G2R Tetrapreneur utamanya merupakan pendidikan total dimulai dari pemilihan bahan baku, produksi, promosi, kemasan, hingga pasar,” ujarnya.
Model G2R Tetrapreneur yang digerakkan sejak 2023 telah menjangkau berbagai pasar global seperti Turki, Kairo, Singapura, Malaysia, Tokyo, Oman, Dubai, hingga Saudi Arabia. Strategi gotong royong yang digunakan bertujuan menciptakan produk ikonik global berbasis kearifan lokal Indonesia.

Dalam pengembangannya, Sekretariat G2R Tetrapreneur telah menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga negara, termasuk Ditjen Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi (PPKTrans) Kemendesa PDT & Transmigrasi dan Direktorat Perdagangan Dalam Negeri Kemendag. Produk yang telah tersertifikasi Halal dan HACCP menjadi target utama ekspor.
Rika Fatimah menambahkan bahwa kepercayaan terhadap produk dan inovasi lokal harus dibangun dari hulu hingga hilir. “Multi-dampak ekonomi memuliakan manusia diharapkan menjadi cetusan bergeraknya ekonomi terdidik mendukung makna sesungguhnya pada aspek lainnya yaitu pemerataan pendidikan,” ungkapnya.
Pendekatan G2R Tetrapreneur melalui Tetra 2 fokus pada penciptaan pasar non-kompetisi sebagai bentuk strategi bisnis yang berpihak pada keaslian produk Indonesia. Pasar ini menjadi media distribusi produk terdidik yang dikelola secara kolaboratif bersama pemangku kepentingan lokal.
Silaturahim dengan BPD DIY Syariah yang berlangsung di kantor mereka di Jalan Tentara Pelajar, Yogyakarta, merupakan tindak lanjut dari MoU antara MES DIY dan G2R Tetrapreneur yang telah ditandatangani pada 15 November 2024 oleh Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec dan Rika Fatimah di Kompleks Kepatihan Pemda DIY.

MoU tersebut memuat empat pilar Tetra: pengembangan sumber daya dan kelembagaan ekonomi berjamaah (Tetra 1), penguatan jaringan pasar non-kompetisi (Tetra 2), akses pasar kompetisi (Tetra 3), dan pengadaan akses pasar kebijakan (Tetra 4). Seluruh pilar ini mendukung Produk Unggulan (PU) dan Produk Gerakkan (PG) G2RT DIY yang menjadi binaan MES DIY.
Baca juga: https://www.gugat.id/momentum-perbaiki-moral-pemdes-metesih-gelar-halal-bihalal-1446-h/
Dalam diskusi bersama BPD DIY Syariah, yang turut dihadiri Arif Wijayanto selaku Pemimpin Unit Usaha Syariah, Dalmugi sebagai Ketua Paguyuban G2RT DIY, serta Mardiana Irawaty dari G2R Tetrapreneur Sumberrejo, disepakati kemitraan produk G2R masuk ke jaringan distribusi “Utama Mart”, toko ritel milik Koperasi Jasa Utama yang dikelola oleh BPD Syariah DIY.
“Hilir itu mudah karena pemerintah yang bergerak, namun hulu-nya ini harus dikuatkan dan diperhatikan karena berhubungan langsung dengan produsen, dalam hal ini adalah masyarakat,” tutup Rika Fatimah.
Kerja sama ini menandai langkah konkret dalam membangun ekosistem ekonomi syariah berbasis gotong royong, yang tidak hanya berfokus pada pasar, tetapi juga pada penguatan kualitas manusia dan produk dari hulu ke hilir.
(Redaksi)