Lima Jam di Gunungkidul: Titiek Soeharto Dorong Pencegahan Karhutla, Resmikan Sumur, Nikmati Wayang |

Lima Jam di Gunungkidul: Titiek Soeharto Dorong Pencegahan Karhutla, Resmikan Sumur, Nikmati Wayang

By

GUNUNGKIDUL, gugat.id – Selama masa reses di Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya Kabupaten Gunungkidul, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati “Titiek” Soeharto melakukan serangkaian kunjungan yang menyoroti tiga pilar penting kehidupan masyarakat: kelestarian lingkungan, pemberdayaan sektor pertanian, dan pelestarian warisan budaya. Kegiatan ini menunjukkan komitmennya dalam mendekati masalah nyata warga di daerah pedesaan.

Di Kalurahan Grogol, Kapanewon Paliyan, ia melakukan sosialisasi bersama Masyarakat Peduli Api (MAP) dengan penekanan pada strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Titiek menekankan bahwa hutan adalah aset alam yang tidak hanya menjadi sumber nafkah, melainkan juga warisan yang harus dilindungi untuk generasi mendatang. “Alam adalah titipan yang tidak boleh kita ragukan tanggung jawabnya—mencari nafkah harus sejalan dengan pengelolaan lahan yang bertanggung jawab,” ungkapnya pada hari Sabtu (20/12/2025). Ia juga menyampaikan akan mendorong Kementrian Kehutanan untuk memperkuat anggaran dan penguatan MAP sebagai garda terdepan dalam deteksi dini dan penanggulangan karhutla.

Selanjutnya, di Kalurahan Mulusan, Paliyan, Titiek meresmikan sumur bor yang dirancang untuk meningkatkan akses air bagi pengairan lahan pertanian. Ini diharapkan akan mendorong peningkatan produktivitas pertanian, bahkan memungkinkan panen ganda setahun. “Dengan keberadaan sumur bor ini, warga bisa mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan mengurangi ketergantungan pada curah hujan,” katanya. Saat berinteraksi dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Jati Makmur, ia menanggapi aspirasi warga yang meminta alat pertanian seperti power traser dan perontok padi dengan janji untuk memenuhinya, sekaligus mengingatkan pentingnya keadilan distribusi agar daerah lain juga mendapat manfaat.

Baca juga: https://www.gugat.id/hutama-karya-operasikan-fungsional-dua-ruas-jtts-dan-junction-palembang-selama-nataru/

Malamnya, meskipun gerimis menyelimuti Padukuhan Pandanan, Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Semin, Titiek tetap hadir menyaksikan pagelaran wayang kulit yang menampilkan tiga dalang bergantian: Prof. Dr. KPH H. Yanto, Ki Sri Kuncoro, dan Ki MPP Bayu Aji. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa wayang kulit bukan hanya tontonan hiburan, melainkan media pendidikan moral yang mengandung ajaran kejujuran, tanggung jawab, dan kesetiaan dari leluhur. Sebagai warisan budaya yang diakui UNESCO, ia mengajak masyarakat untuk terus melestarikan dan memperkenalkan wayang kepada generasi muda. “Lakon Pandu Swargo malam ini mengingatkan kita bahwa kedudukan dan kekuasaan di dunia tidak memiliki arti tanpa niat yang bersih dan tanggung jawab atas setiap perbuatan,” pungkasnya, dalam suasana yang dipenuhi semangat kebudayaan.

(Redaksi)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like

Hot News

Instagram
WhatsApp
Tiktok
error: Content is protected !!