WONOGIRI, gugat.id – Seni teater tradisional badut masih bertahan di masyarakat Desa Mojoreno, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, Minggu (6/8/2023).
Kesenian tradisional itu merupakan warisan dari leluhur sebelumnya dan generasi berikutnya terus melestarikannya agar tidak hilang dan generasi yang akan datang tetap dapat menikmati kesenian tradisional tersebut.
Kesenian Badut Wonogiri yang berasal dari Desa Mojoreno ini berbentuk seperti kesenian teater tradisional atau ketoprak. Pertunjukan kesenian ini memiliki beberapa unsur seperti tarian, nyanyian, dan dialog.
Sejarah asal muasal seni badut ini bisa ditelusur ke masa perjuangan, Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. Pada saat berjuang melawan tentara belanda pada abad ke-18 tepatnya lahir pada 1725 hingga wafat pada 1795.
Endarto, dalam video yang diunggah di kanal youtube kebudayaan Wonogiri channel menceritakan pada masa penjajahan, Raden Mas Said dikejar – kejar oleh tentara Belanda.
Untuk mengelabui para tentara Belanda, Raden Mas Said dan para pengikutnya menyamar sebagai petani dan ikut membantu menggarap sawah. Raden Mas Said dan para pengikutnya lolos dari kejaran tentara Belanda.
Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, Raden Mas Said ingin membuat sesuatu. Salah seorang pengikutnya yang bernama Guno Sumadyo kala itu menawarkan idenya untuk menampilkan tarian bersama dengan kelompoknya.
Usulan itu disetujui oleh Raden Mas Said. Maka dipentaskanlah tarian yang benar-benar dapat menghibur Raden Mas Said dengan gerakan-gerakannya yang lucu. Kesenian yang pertama ditampilkan di Wonogiri ini kemudian diberi nama seni Badut karena gerak tariannya lucu itu serta dapat menghibur siapa saja yang melihat.
Baca juga: https://www.gugat.id/revitalisasi-dua-pasar-tradisional-di-wonogiri-telan-dana-10-milyar/
Kesenian tersebut diwariskan ke generasi muda, guna untuk nguri-uri warisan seni budaya leluhur, yang saat ini mulai hilang tergerus modernisasi.
“Kami mengajak anak muda – mudi,untuk nguri-uri warisan seni leluhur yang mulai hilang tergerus jaman.” pungkas Endarto.
(Red/PP)