TEGAL, Gugat.id – Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kabupaten Tegal memperingati Milad ke-60 KAHMI dengan menggelar seminar bertema “Mendorong Tata Kelola dan Transparansi APBD Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal dalam Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Inklusif Menuju Tegal Luwih Apik”.
Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Amangkurat Kabupaten Tegal, Slawi, Sabtu (19/9/2026), tersebut mengusung tema nasional “KAHMI untuk Kedaulatan Bangsa”.
Sejumlah unsur turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya perwakilan Pemerintah Kabupaten Tegal, pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Tegal, Forkopimda, jajaran KAHMI, akademisi, serta peserta seminar. Presidium MD KAHMI Kabupaten Tegal, Ridho Rejekiono, mengatakan seminar tersebut tidak hanya membahas angka-angka dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), tetapi juga bagaimana APBD dapat menjadi instrumen untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
“Seminar ini bukan untuk membicarakan angka-angka. Lebih dari itu, kita ingin menjadikan pengetahuan bahwa APBD sebagai instrumen untuk menjawab kebutuhan masyarakat sehingga Kabupaten Tegal bisa bertindak adil, transparan, partisipatif, dan berpihak pada kepentingan masyarakat,” kata Ridho.
Menurutnya, transparansi tidak seharusnya dimaknai sebagai upaya mencari kesalahan pemerintah. Transparansi merupakan bagian dari upaya membangun kepercayaan antara pemerintah dan masyarakat. Begitu pula dengan pengawasan masyarakat. Ridho menilai kritik dan pengawasan yang dilakukan secara konstruktif justru dapat menjadi energi positif untuk memperbaiki kebijakan publik.
Ia juga menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Dalam pengelolaan APBD, pembangunan tidak boleh hanya memberikan manfaat kepada kelompok tertentu.
“Pertumbuhan ekonomi inklusif harus kita maknai sebagai pertumbuhan yang menghadirkan kesempatan dan manfaat lebih luas,” ujarnya.
Ridho menambahkan, demokrasi juga tidak berhenti pada proses memilih pemimpin. Demokrasi harus hadir dalam proses penyusunan kebijakan publik, termasuk perencanaan dan pengawasan APBD.

Masyarakat, kata dia, harus memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, memberikan kritik, memperoleh informasi, serta ikut mengawasi pembangunan.
“Demokrasi tidak hanya berbicara tentang siapa yang dipilih, tetapi juga tentang bagaimana kekuasaan digunakan dan bagaimana kepentingan masyarakat diperjuangkan,” katanya.
Sebagai bagian dari keluarga besar HMI, KAHMI juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pemikiran, kritik, dan masukan secara konstruktif kepada pemerintah. Menurut Ridho, pembangunan ekonomi tidak semata-mata diukur dari besarnya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana pembangunan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Sekretaris Presidium KAHMI Jawa Tengah, Sapto Widodo, mengatakan momentum Milad ke-60 KAHMI harus menjadi ruang untuk memperkuat kembali peran HMI dan KAHMI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sapto menjelaskan, mahasiswa memiliki dua karakter penting, yakni muda dan intelek. Semangat kemudaan berkaitan dengan idealisme, kepedulian terhadap nilai dan moralitas, sedangkan intelektualitas berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis, bernalar, menganalisis data, dan memecahkan masalah.
“KAHMI adalah fase lanjutan dari perkaderan HMI, di mana turut bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat yang diridai Allah bertransformasi dari cita menuju fakta,” ujar Sapto.
Menurut Sapto, KAHMI harus mampu mengambil peran lebih luas dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa. KAHMI tidak seharusnya hanya dikenal melalui kiprah alumninya di bidang politik atau akademik. Ia mendorong agar spektrum profesi dan kontribusi KAHMI diperluas seiring perkembangan zaman dan disrupsi yang terjadi di berbagai bidang.
Karena itu, peningkatan kompetensi menjadi salah satu hal yang perlu diperkuat. Potensi alumni HMI yang tersebar di berbagai disiplin ilmu dan profesi dinilai dapat menjadi kekuatan untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Dengan banyaknya profesi dan bekal muda dan intelek tadi, maka syarat untuk bertahan bagi bangsa ini adalah kuatnya meritokrasi dan kuatnya kompetensi,” katanya.
Sapto juga mengajak seluruh kader dan alumni HMI untuk tidak hanya menjadi pengamat ketika menghadapi persoalan bangsa. Menurutnya, KAHMI harus hadir sebagai bagian dari solusi. “KAHMI harus menjadi solusi apa pun posisi dan peran yang sedang dijalani,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sapto turut menyinggung pentingnya menjaga unsur budaya dalam kehidupan KAHMI. Menurutnya, budaya merupakan bagian penting dari perjalanan masyarakat Indonesia, termasuk dalam perkembangan Islam di Nusantara.
Menutup sambutannya, Sapto membacakan puisi berjudul “Jangan Pernah Lelah Mencintai” yang mengajak peserta merefleksikan makna mencintai Indonesia.
Pewarta : Iqbal R