PALEMBANG, gugat.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan merilis informasi iklim dasarian terbaru per 10 Desember 2025. Dalam laporan tersebut, peluang hujan di Sumsel masih tergolong tinggi pada Dasarian II Desember 2025, sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi.
BMKG mencatat curah hujan pada Dasarian I Desember 2025 di Sumatera Selatan berada pada variasi rendah hingga sangat tinggi. Beberapa wilayah seperti sebagian kecil Lubuk Linggau bagian tengah, sebagian kecil Empat Lawang bagian barat, Ogan Ilir bagian tengah, dan sebagian kecil OKI bagian barat tercatat dalam kategori rendah (0–50 mm).
Sementara itu, curah hujan kategori menengah (50–150 mm) mendominasi wilayah Lubuk Linggau, MURATARA, Musi Banyuasin, Banyuasin, OKI bagian tengah, Ogan Ilir, Pagar Alam, OKU Selatan, OKU bagian barat daya, OKU Timur bagian selatan, serta sebagian wilayah Lahat dan Muara Enim.
Adapun kategori tinggi (150–300 mm) terukur di sebagian besar Palembang, PALI, Muara Enim, Prabumulih, Lahat, OKU, OKU Timur bagian tengah, OKI bagian utara dan selatan, serta sejumlah wilayah Musi Rawas dan Banyuasin. Curah hujan sangat tinggi (>300 mm) terpantau di sebagian kecil Lahat bagian tengah dan OKI bagian selatan.
“Curah hujan tertinggi dicatat di Pos Hujan Pseksu, Kecamatan Pseksu, Kabupaten Lahat yang mencapai 421,5 mm. Ini menunjukkan dinamika atmosfer yang cukup aktif di Sumsel memasuki awal Desember,” jelas Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Dr. Wandayantolis.
Sifat hujan Dasarian I Desember 2025 di Sumsel didominasi kategori Atas Normal, menandakan curah hujan lebih tinggi dibanding rata-rata klimatologis. Meski demikian, beberapa wilayah seperti Lubuk Linggau, Empat Lawang bagian barat, dan OKU Selatan bagian selatan menunjukkan sifat hujan Bawah Normal.
Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) menunjukkan sebagian besar wilayah sumsel masih diguyur hujan. HTH terpanjang hanya 3 hari, terukur di AAWS OKI, Kayuagung.
BMKG Sumsel melaporkan kondisi dinamika atmosfer yang memengaruhi intensitas hujan di wilayah tersebut. Indeks IOD berada pada -0.36 dan diprediksi kembali netral pada Desember 2025, sementara indeks ENSO berada pada -0.80 atau berada dalam kondisi La Nina lemah yang diperkirakan bertahan hingga awal 2026.
Selain itu, angin baratan mulai mendominasi wilayah Indonesia, disertai adanya sistem tekanan rendah di beberapa area seperti Selat Malaka, Kalimantan, Papua, dan NTT. Munculnya bibit siklon tropis 91S juga memperkuat pembentukan awan hujan.
“Faktor-faktor dinamika atmosfer ini membuat kondisi cuaca masih sangat labil. Gelombang atmosfer diprediksi aktif hingga Dasarian II Desember. Karena itu peluang hujan menengah hingga tinggi masih mendominasi Sumsel,” ujar Wandayantolis.
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Sumatera Selatan memiliki peluang lebih dari 80% mengalami curah hujan kategori menengah (51–150 mm) pada Dasarian II Desember 2025. Hanya sebagian wilayah Empat Lawang bagian tengah yang berpotensi mengalami curah hujan rendah (0–50 mm).
BMKG menegaskan bahwa seluruh zona musim di Sumsel telah memasuki musim hujan, dan beberapa wilayah diperkirakan mencapai puncaknya pada Desember 2025.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, angin kencang, dan longsor. Tingginya peluang hujan memerlukan kewaspadaan bersama terutama di wilayah rawan,” kata Wandayantolis.
BMKG juga meminta masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, saluran air, serta memperbarui informasi cuaca secara berkala melalui kanal resmi BMKG.
(Redaksi/Don)