Gunungkidul, gugat.id – Para petani di Gunungkidul kini menghadapi tantangan baru dalam pertanian mereka. Selain serangan segerombolan monyet ekor panjang, hama tanaman lain, yaitu ulat grayak, telah merusak daun tanaman palawija yang baru tumbuh.
Dalam laporan tim reporter yang melakukan peninjauan di lapangan, terlihat sejumlah petani berupaya membersihkan ulat grayak yang merusak daun jagung. Serangan ulat ini berlangsung cepat, mengakibatkan daun tanaman hilang hanya dalam hitungan jam.
“Ancaman gagal panen kini menjadi perbincangan hangat di kalangan petani,” ujar Wagiyo, seorang petani berusia 52 tahun dari Semanu.

Meski telah berupaya membasmi hama ini dengan pestisida, ulat grayak kembali muncul dalam waktu singkat. Ulat grayak, yang dikenal sebagai salah satu hama utama tanaman jagung, memiliki siklus hidup yang mengkhawatirkan. Dalam waktu 32 hingga 46 hari, satu ekor ulat dapat menghasilkan hingga 1.046 telur.
Baca juga: https://www.gugat.id/korem-072-pamungkas-terima-kunjungan-kerja-spesifik-komisi-i-dpr-ri/
Ulat ini menyerang dengan populasi besar dan mampu berpindah jauh dalam waktu malam. Dengan dukungan angin, larva dapat menjangkau tanaman di sekitar.
Serangan ulat grayak biasanya terjadi pada malam hari, sementara di siang hari, mereka bersembunyi di bawah tanaman atau dalam tanah. Gejala serangan mencakup daun yang rusak, berlubang, dan tampak seperti terserang kotoran serbuk gergaji. Dalam kasus serangan berat, daun tanaman bisa menjadi gundul.
Keberadaan hama ini menjadi ancaman serius bagi pertanian di Gunungkidul, dan petani berharap adanya solusi yang efektif untuk melindungi hasil panen mereka.
(Redaksi)