Yogyakarta, gugat.id – Sebuah karya pertunjukan bertajuk “Libreto Mantra” siap dipentaskan sebagai refleksi artistik atas kegelisahan terhadap keserakahan manusia dan kerusakan alam. Melalui perpaduan mantra, musik, tari, serta tata cahaya, pementasan ini menggugat cara kekuasaan bekerja dan bagaimana kerakusan merusak keseimbangan ekologi.
Naskah karya Joko Santosa, budayawan sekaligus penggiat mantra ini garap oleh Nano Asmorodono, Pardiman Joyonegoro, Memet Chairul Slamet, Bimo Wiwohatmo, , serta sejumlah seniman lintas disiplin, “Libreto Mantra” menghadirkan rapal sebagai medium ekspresi bebas yang tidak tunduk pada makna baku. Pertunjukan ini mengajak penonton masuk dalam pengalaman artistik tanpa plot, di mana musik, gerak, dan cahaya saling berkelindan secara organik.

Nano Asmorodono menegaskan bahwa pementasan ini adalah bentuk ruwat batin dan bumi. “Libreto Mantra menyapa semesta yang sedang tidak baik-baik saja,” ujarnya. Dengan konsep meditasi cahaya, tari tanpa pakem, dan mantra yang dimerdekakan, pertunjukan ini diharapkan menjadi ruang kontemplasi di tengah kegaduhan zaman.
“Libreto Mantra” yang akan dipentaskan di Tebing Breksi pada 18 Desember 2025, jam 19:30- selesai ini menghadirkan pengalaman budaya yang merayakan kebebasan artistik sekaligus kritik ekologis dan moral terhadap kekuasaan.
(Red/B’djo)