SLEMAN ,Gugat.id – Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta sukses menyelenggarakan Studium Generale dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-44 kampus tersebut. Acara ini dilangsungkan di Gedung Rektorat UWM, Banyuraden, Gamping, Sleman, pada Kamis (10/9). Hadir sebagai pembicara utama, Dekan FE UWM, Dr. Jumadi, SE, MM., membawakan materi bertajuk “Transformasi Ekonomi Berkelanjutan: Perwujudan Hamemayu Hayuning Bawono”.
Dalam paparannya, ia menyoroti urgensi Indonesia untuk segera merombak sistem ekonominya di tengah berbagai tekanan global. Menurut Dr. Jumadi, Indonesia saat ini masih dihadapkan pada ancaman jebakan kelas menengah (middle income trap), ketimpangan antarwilayah, krisis iklim, serta ekonomi yang terlalu bergantung pada sumber daya alam mentah. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk meninggalkan paradigma ekonomi konvensional yang eksploitatif dan beralih ke ekonomi berkelanjutan.
“Kita butuh transformasi yang digerakkan oleh tujuh pilar utama yang saling terintegrasi,” papar Dr. Jumadi. Ketujuh pilar tersebut meliputi hilirisasi dan industrialisasi, ekonomi hijau, ekonomi sirkular, transisi energi menuju net zero emission, transformasi digital, ekonomi biru, serta penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan riset.
Sebagai langkah konkret, ia mencontohkan potensi besar pada hilirisasi sektor agroindustri seperti padi, jagung, dan kelapa. Jika komoditas ini diolah secara maksimal dari hulu ke hilir, dampaknya tidak hanya akan meningkatkan taraf hidup petani, tetapi juga membuka lapangan kerja baru berbasis industri hijau.
Menariknya, visi keberlanjutan ini sangat sejalan dengan filosofi budaya Jawa, Hamemayu Hayuning Bawono. Dr. Jumadi menjelaskan bahwa konsep ini adalah bentuk ekonomi ideal yang menyeimbangkan antara kemakmuran finansial, keadilan sosial bagi masyarakat, pelestarian alam, serta ketahanan budaya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial sebagai episentrum transformasi ini. Kampus diharapkan mampu melahirkan inovasi, memperbarui kurikulum yang relevan dengan ekonomi hijau, serta aktif mendampingi UMKM di masyarakat.
“Transformasi ekonomi Indonesia bukan sekadar mengubah apa yang kita produksi, tetapi mengubah bagaimana kita menciptakan nilai. Ini adalah langkah berani dari sekadar menjual bahan mentah menuju penciptaan inovasi, dari orientasi pertumbuhan semata menuju kesejahteraan merata, dan dari eksploitasi menuju keberlanjutan,” tutup Dr. Jumadi.
(Red)