Surakarta, Gugat.id -Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menggelar Diskusi Mahasiswa untuk Peningkatan Kegiatan Penalaran. Mengusung tema “Komunikasi Visual untuk Perubahan Perilaku Masyarakat”. Diskusi ini menghadirkan Karlina Puspitasari, selaku Penyuluh Keluarga Berencana dari Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Sukoharjo sebagai narasumber utama.
Kegiatan yang diikuti sekitar 200an mahaswa ini diselenggarakan pada Selasa (16/9/2026) di Gedung Sungging Prabangkara, FSRD Kampus 2 Mojosongo ISI Surakarta ini juga turut hadir Koordinator Prodi DKV M. Harun Rosyid, Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ISI Surakarta, Anung Rachman, serta dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) yang bertindak sebagai moderator, Ipung Kurniawan Yunianto.
Sebagai pemantik diskusi, moderator Ipung Kurniawan Yunianto menyoroti pola pikir mahasiswa desain yang sering kali terjebak pada bentuk fisik karya. “Sebelum bertanya ‘media apa yang akan kita buat?’, mahasiswa harus terlebih dahulu bertanya ‘masalah apa yang ingin kita selesaikan?’. Seorang perancang harus memahami karakter sasaran dan perubahan apa yang ingin dicapai. Desain KIE yang berhasil bukan sekadar yang estetik di mata, melainkan yang mampu menjembatani informasi dengan realitas psikologis dan sosiologis khalayaknya,” tegas Ipung.
Senada dengan hal tersebut, narasumber utama Karlina Puspitasari membagikan realitas lapangan yang sering ia hadapi. Baginya, kolaborasi dengan perancang visual adalah kunci suksesnya program pemerintah di akar rumput. “Seringkali kami di lapangan menemukan materi penyuluhan yang secara visual sangat bagus, namun bahasanya terlalu kaku atau tidak menyentuh kearifan lokal. Kami butuh desainer yang mampu menerjemahkan program pengendalian penduduk menjadi visual yang renyah, mudah dicerna, dan sesuai dengan budaya masyarakat, sehingga pesan perubahan perilaku benar-benar mengena,” jelas Karlina.
Kehadiran narasumber dari lapangan ini dirancang secara khusus untuk memberikan gambaran nyata mengenai fenomena di lapangan, karakter khalayak, kebutuhan penyuluhan, hingga permasalahan media komunikasi visual KIE pada mitra binaan. Informasi-informasi krusial ini akan menjadi landasan utama dan data primer bagi mahasiswa DKV dalam mengembangkan proyek perancangan mereka ke depan.
Dari sisi akademik, Koordinator Prodi DKV, yakni M. Harun Rosyid menilai diskusi ini sebagai wujud konkret penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan nyata. Lebih dari sekadar diskusi akademik, kegiatan ini juga menjadi langkah awal penjajakan kerja sama kelembagaan antara FSRD ISI Surakarta dan DPPKBP3A Kabupaten Sukoharjo.
“Kami melihat potensi besar untuk sinergi jangka panjang. Ke depan, rencana kerja sama ini akan diarahkan pada pemanfaatan sumber daya bersama untuk meningkatkan kompetensi SDM di bidang kreativitas seni rupa dan desain. Ruang lingkup yang akan kita jajaki sangat komprehensif, mulai dari pemanfaatan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), pertukaran praktisi, penelitian dan kajian studio bersama, hingga pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan produk komunikasi visual bersama,” jelas Harun.
Hal ini dikuatkan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ISI Surakarta, Anung Rachman yang menegaskan dukungan penuh institusi. “Kolaborasi lintas sektor ini membuka mata mahasiswa bahwa seni dan desain memiliki tanggung jawab sosial. Kami mendukung penuh inisiatif ini agar mahasiswa terbiasa berpikir kritis, empatik, dan solutif, sekaligus membuka jalan bagi kerja sama strategis seperti publikasi ilmiah, pameran, hingga kompetisi mahasiswa di masa mendatang,” tambah Anung.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari para mahasiswa yang hadir. Salah satu peserta, Mumtazah Abdul Rauf, mahasiswa DKV semester 5, mengaku mendapat perspektif baru tentang peran desain dalam masyarakat. “Selama ini saya berpikir bahwa tugas utama desainer adalah membuat karya yang indah. Tapi setelah mendengar pengalaman Ibu Karlina, saya sadar bahwa desain yang baik harus bisa menyelesaikan masalah. Saya jadi lebih memahami pentingnya riset audiens dan konteks sosial sebelum mulai membuat karya untuk proyek KIE saya,” ujar Mumtaz.
Senada dengan Mumtaz, Fajar Haditiya, mahasiswa tingkat akhir, menyatakan bahwa diskusi ini membantunya menjembatani teori dengan praktik. “Yang paling berkesan adalah ketika narasumber bercerita tentang bagaimana masyarakat merespons berbagai materi penyuluhan. Saya jadi mengerti bahwa tidak semua desain yang bagus di mata desainer itu efektif di lapangan. Ini membuka mata saya untuk lebih banyak turun ke masyarakat dan memahami kebutuhan mereka secara langsung, bukan hanya mendesain dari dalam studio,” ungkap Fajar.
Kegiatan ini menjadi bukti komitmen Prodi DKV FSRD ISI Surakarta dalam mencetak desainer komunikasi visual yang tidak hanya mumpuni secara estetika, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan mampu memberikan dampak nyata bagi perubahan perilaku masyarakat, sekaligus memperkokoh jejaring kerja sama strategis dengan instansi pemerintah daerah.
(Redaksi)