Defisit Nangka Muda untuk Gudeg Capai 7 Ton Sehari, Gunungkidul Mulai Ambil Peran |

Defisit Nangka Muda untuk Gudeg Capai 7 Ton Sehari, Gunungkidul Mulai Ambil Peran

By

GUNUNGKIDUL, Gugat.id — Ketergantungan Yogyakarta terhadap pasokan nangka muda dari luar daerah mulai ditantang dari Gunungkidul. Di tengah kebutuhan industri gudeg yang mencapai sekitar 9 ton nangka muda per hari, kawasan hutan karst di Gunungkidul kini disiapkan menjadi salah satu sumber bahan baku sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Upaya itu ditandai dengan panen raya dan penanaman lanjutan pohon nangka di Hutan Lestari Wanaboga Nangka, Petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (3/10/2026).

Program tersebut digarap melalui kolaborasi PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Foundation, Universitas Gadjah Mada (UGM), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, serta Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang beranggotakan sekitar 400 petani lokal.

Selama ini, kebutuhan nangka muda untuk industri gudeg di Yogyakarta diperkirakan mencapai 9 ton per hari. Namun, produksi dari wilayah DIY baru sekitar 2 ton per hari. Artinya, masih terdapat kekurangan sekitar 7 ton per hari yang harus dipasok dari luar daerah.

Kondisi tersebut menjadi celah sekaligus tantangan untuk membangun kemandirian bahan baku pangan lokal.

Komisaris PT Pertamina (Persero), Nanik S. Deyang, mengatakan pengembangan kawasan nangka di Gunungkidul menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjawab kebutuhan industri kuliner khas Yogyakarta.

“Yogyakarta ini identik dengan gudeg, namun selama ini belum memiliki sumber bahan baku mandiri sehingga harus mendatangkan dari luar daerah. Pemanfaatan lahan di Gunungkidul ini adalah bagian nyata dari program ketahanan pangan,” ujar Nanik di sela panen bersama masyarakat.

Pengembangan Hutan Lestari Wanaboga Nangka juga mendapat dukungan Pemerintah Daerah DIY, sejalan dengan arahan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengenai pemanfaatan kawasan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bagi petani, program tersebut mulai menunjukkan hasil. Perwakilan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka, Ngatimin, menyebut kelompoknya telah tiga kali melakukan panen dan mulai merasakan manfaat ekonomi dari pengembangan tanaman nangka.

“Kami sudah panen tiga kali. Terima kasih Pertamina. Harapan kami pendampingan peningkatan SDM terus berlanjut agar hasil kebun bisa dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah, tidak hanya dijual mentah,” kata Ngatimin.

Pertamina memastikan program tersebut tidak berhenti pada seremoni panen. Orientasinya diarahkan pada penciptaan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dapat diukur dalam jangka panjang.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, menegaskan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina harus mampu meninggalkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.

“Pertamina berkomitmen untuk memastikan setiap program TJSL yang kami gulirkan tidak hanya bersifat karitatif atau momentum sesaat, tetapi memiliki dampak yang terukur, berjangka panjang, dan berkelanjutan,” tegas Arya.

Menurutnya, pengembangan Hutan Lestari Wanaboga Nangka diarahkan untuk menciptakan kedaulatan pangan, memperkuat ekonomi petani, sekaligus menjaga ekosistem lingkungan.

Tantangan utama pengembangan nangka di kawasan tersebut adalah karakter lahan karst yang cenderung kering, terutama saat musim kemarau. Karena itu, pengelolaan kawasan dikembangkan dengan sistem tumpangsari serta dukungan pengairan berbasis energi bersih.

Konsepnya tidak berhenti pada produksi nangka. Dalam jangka panjang, kawasan tersebut diproyeksikan menjadi lumbung pangan sekaligus sentra bahan baku kuliner dan kawasan eduwisata baru di Gunungkidul.

President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, mengatakan keberhasilan program tidak semata diukur dari hasil panen hari ini, melainkan dari manfaat yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

“Ukuran keberhasilan kita adalah seberapa besar dampak yang tersisa lima hingga sepuluh tahun mendatang. Melalui Wanaboga Nangka, kita membuktikan bahwa ketika pemerintah, akademisi, masyarakat, dan dunia usaha bergandengan tangan, hutan tidak hanya lestari, tetapi juga memberi pangan, menjaga iklim, dan menyejahterakan desa,” ungkap Agus.

Sementara itu, Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero), M. Erry Sugiharto, menilai penguatan ekonomi masyarakat dapat dimulai dari komoditas sederhana yang memiliki pasar jelas.

“Hilirisasi tidak hanya milik sektor pertambangan, tetapi bisa kita mulai dari sebatang pohon nangka untuk mendukung swasembada pangan serta harmoni lingkungan,” kata Erry.

Untuk memperkuat aktivitas petani, Pertamina Foundation menyerahkan dua unit kendaraan angkut roda tiga yang akan digunakan untuk mendukung mobilitas hasil panen dari kawasan hutan menuju pengepul.

Dukungan juga diberikan melalui penyerahan 20 paket bantuan pendidikan SESAMA berupa tas dan perlengkapan sekolah bagi anak-anak di sekitar kawasan hutan.

Panen raya kemudian ditutup dengan Tradisi Kembul Bujono, tradisi makan bersama masyarakat yang menyajikan berbagai olahan nangka. Suasana semakin meriah dengan alunan musik tradisional Rinding Gumbeng khas Gunungkidul sebagai ungkapan syukur atas hasil panen.

Dari lahan karst yang selama ini identik dengan kekeringan, Gunungkidul kini mencoba membangun cerita berbeda. Pohon nangka tidak hanya ditanam untuk menghijaukan kawasan, tetapi juga diarahkan menjadi sumber pangan, bahan baku industri gudeg, penghasilan petani, hingga pintu masuk pengembangan ekonomi desa.

Jika konsistensi pendampingan, produktivitas, dan hilirisasi terus dijaga, Hutan Lestari Wanaboga Nangka berpeluang menjadi model pengelolaan hutan pangan di lahan kering yang mampu menjawab kebutuhan pasar sekaligus menjaga lingkungan.

(Red)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like

Hot News

Instagram
WhatsApp
Tiktok
error: Content is protected !!