Bagaskara Terbang ke Langit |

Bagaskara Terbang ke Langit

By

Oleh Mulia Nasution – Wartawan, Praktisi Komunikasi Publik

Jakarta, gugat.id- Takdir tak pernah mengetuk pintu. Ia datang tiba-tiba, menghantam tanpa ampun, lalu meninggalkan sunyi yang panjang. Malam itu, takdir memilih seorang ayah dan merenggut anaknya.

Saya melihat Pak Bernad Dermawan Sutrisno duduk dengan punggung tegak. Tak ada ratap, tak ada air mata yang jatuh berlebihan tapi justru di situlah tragedi bekerja paling kejam. Ketabahan sering kali adalah topeng terakhir orang yang hatinya runtuh. Saya tahu, di dalam dadanya ada jiwa yang remuk menjadi kepingan kecil.

Puluhan sahabat datang dari berbagai penjuru negeri. Mereka bukan sekadar kolega birokrasi. Mereka adalah saksi hidup yang mencoba menahan seorang ayah agar tidak jatuh terlalu dalam. Senyum tipis Pak Bernad muncul sesekali, senyum yang lebih mirip usaha bertahan hidup daripada kebahagiaan.

Usai tahlilan Sabtu malam (7/1), pemuka agama mengingatkan satu hal: musibah tak pernah salah alamat. Takdir tak pernah terlambat apalagi keliru. Kata-kata itu terdengar sederhana, namun bagi seorang ayah yang baru saja kehilangan anak, setiap kalimat terasa seperti ujian baru yang harus ditelan perlahan.

Di antara pelukan dan doa, saya bertemu kembali dengan para alumni IPDN lintas angkatan. Obrolan ringan dipaksakan hadir, seolah tawa bisa menunda duka. Pak Asmin Safari Lubis datang dari Riau. Pak Ferry “Pablo” Syahminan dari KPU RI. Pak Ferdinand Sirait, Sekjen Bawaslu RI. Juga Pak Endar Purnawan dari Badan Pangan Nasional. Kehadiran mereka adalah upaya manusiawi untuk menyanggah satu kenyataan bahwa tak ada yang benar-benar bisa menguatkan seorang ayah yang kehilangan putranya.

Ingatan saya melompat jauh ke tahun 2014. Saya pernah duduk berdua dengan Pak Bernad di rumahnya, di Jakarta Selatan. Obrolan kami panjang, serius, namun hangat. Di sudut ruangan, perhatian saya tertuju pada replika kereta api Rusia, hobi yang dirawat dengan cinta. Di sampingnya, seorang bocah kecil bermain dengan riang. Wajahnya polos. Matanya hidup.

Dialah Bagaskara Langit Kresna Putra Sutrisno. Saat itu usianya baru tujuh tahun.
Tak ada yang menyangka, bocah itu akan “terbang ke langit” pada usia 19 tahun, tepat saat hidupnya baru saja membuka pintu masa depan. Tak ada luka di tubuhnya. Tak ada goresan. Seolah ajal datang tanpa perlawanan.
Saya ikut mengawal dari awal, Bang. Tidak ada luka luar sedikit pun,” kata Pak Asmin Lubis dengan suara serak. Ia berhenti sejenak, menelan kata-katanya sendiri. “Mungkin luka itu ada di dalam.”

Kamis malam itu menjadi malam paling kelabu bagi keluarga Bernad. Kecelakaan tunggal. Sunyi. Tanpa drama. Justru itulah yang membuatnya terasa lebih kejam. Tak ada kesempatan berpamitan. Tak ada kata terakhir. Seorang anak pergi begitu saja, meninggalkan lubang besar di dada ayahnya.

Saya sempat mengira yang wafat adalah Surya, sang kakak yang dulu ceria dan kerap tampil di iklan. Ternyata bukan tapi adiknya, Bagaskara. Anak yang lebih pendiam. Anak yang tumbuh tanpa sorotan, namun pergi dengan cara yang mengguncang.

Sebagai wartawan, saya terbiasa menyaksikan tragedi. Angka korban dan data kecelakaan maupun Ssatistik kematian. Tapi di hadapan seorang ayah yang kehilangan anaknya, semua itu runtuh tak berarti. Tak ada diksi yang benar-benar mampu menjelaskan perasaan orang tua yang ditinggal darah dagingnya.

Saya dibesarkan oleh disiplin jurnalistik yang keras: jangan larut, jangan sentimental. Namun malam itu, saya menyerah. Ada tragedi yang tak layak diceritakan dengan jarak. Ada kehilangan yang harus ditulis dengan hati.
Bagaskara tidak sekadar meninggal. Ia meninggalkan pelajaran paling sunyi tentang kefanaan hidup. Tentang betapa rapuhnya rencana manusia. Tentang ikhlas yang dipaksakan oleh keadaan.

Malam itu, saya pulang dengan satu kesadaran pahit: tak ada jabatan, tak ada kekuasaan, tak ada pencapaian yang mampu menawar duka seorang ayah. Di hadapan takdir, kita semua sama – sama kecil, rapuh dan tak berdaya.
Bagaskara telah terbang ke langit.
Dan seorang ayah, dengan dada kosong belajar hidup kembali dari puing-puing harapan.

(Redaksi)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like

Hot News

Instagram
WhatsApp
Tiktok
error: Content is protected !!