Bakran Asmawi dan Jejak Media |

Bakran Asmawi dan Jejak Media

By


Oleh R Mulia Nasution

Jakarta, gugat.id – Wartawan dengan reputasi peliputan internasional itu telah pergi meninggalkan dunia pada Senin (23/2/2026) malam. Namun kepergiannya justru menegaskan jejak kehadirannya dalam pentas media nasional di Tanah Air. Bakran Asmawi memang bukan nama yang tenar, bukan pula selebritas dari kalangan awak media. Tetapi bagi mereka yang mengenal karya dan pernah bersentuhan dengan sosoknya, tersimpan persepsi yang tajam tentang keberanian, kelembutan, serta kemahirannya menulis berita.

Di media nasional yang berlangganan Kantor Berita Antara pada 1979, informasi tangan pertama tentang perang perbatasan Cina–Vietnam diperoleh dari Bakran Asmawi. Ia menjadi wartawan Indonesia pertama yang mendapat izin masuk ke Vietnam pasca G30S/PKI, bersama juru kamera TVRI Hendro Subroto dan reporter Kasakean.
Pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, laporannya dari Markas Besar PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) di New York, Amerika Serikat, menjadi referensi penting bagi pembaca koran harian di Indonesia.

Ia pernah mengaku, pengalaman paling menyenangkan sepanjang kariernya adalah saat mendapat undangan makan siang bersama Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar untuk para pemenang The Dag Hammarskjold Memorial Fellowship tahun 1983. “Selesai acara saya langsung ke ruang komputer press center Markas Besar PBB untuk mengirim beritanya ke Jakarta,” kisahnya.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan master di Ohio University.
Secara jujur Bakran juga mengakui liputan yang membuatnya “mati kutu” adalah US Open di New York yang diikuti Yayuk Basuki pada 1996. “Masalahnya saya kurang persiapan.”
Namun seperti pernah dikisahkan Yayuk Basuki, saat itu ia sebenarnya berpeluang meraih sukses lebih besar di US Open, tetapi memilih “mengalah” demi komitmen membela DIY pada ajang PON. Kedua agenda berlangsung bersamaan, US Open digelar 16 Agustus hingga 9 September.
Bakran Asmawi kemudian dipercaya menjadi Kepala Biro Antara di New York. Ia bukan hanya meliput kegiatan PBB, tetapi juga berbagai peristiwa penting di Amerika dan sekitarnya. Ia meliput KTT Bumi di Brasil pada 1992, serta mewawancarai Presiden Venezuela Carlos Andres Perez di Istana Miraflores, Caracas, pada tahun yang sama.

Penulis bersentuhan langsung dengannya ketika Bakran bergabung dengan RCTI pada pertengahan 1990-an, sepulang dari New York. Di newsroom, ia menerjemahkan liputan internasional sekaligus menjadi editor bagi penerjemah yunior untuk tayang di televisi swasta pertama itu. Liputan lapangannya tentang warga keturunan Jawa di Suriname bersama juru kamera Syafri Munardi pada Oktober 1995 memberi warna tersendiri tentang diaspora Indonesia.

Dalam karier jurnalistiknya, Bakran juga menjadi mentor bagi reporter yang mendapat tugas peliputan luar negeri. Bukan hanya soal kemahiran berbahasa Inggris, tetapi juga membuka wawasan tentang dunia Barat, khususnya benua Amerika. Di kalangan rekan newsroom RCTI, ia dikenang sebagai “the smiling journalist” karena selalu menyapa dengan senyuman.

Pada era 1970-an hingga 1980-an, surat kabar menjadi primadona dan bacaan wajib para pemimpin negara, politisi, pengusaha, serta masyarakat luas. Memasuki 1990-an ketika televisi swasta mewarnai media Tanah Air, Bakran turut ambil bagian di dalamnya.
Komunikasi penulis cukup intens saat dipercaya menjadi produser lifestyle dan hiburan redaksi RCTI untuk program Buletin Siang, dengan Dana Iswara sebagai produser sekaligus presenter. Ketika itu newsroom RCTI tengah berbenah meningkatkan performa revenue stream di bawah kepemimpinan Chrys Kelana sebagai pemimpin redaksi dan Jilal Mardhani sebagai direktur pemberitaan.

Pada 21 Mei 1998 Presiden Soeharto mengundurkan diri dan digantikan BJ Habibie. Salah satu kebijakan penting era Habibie adalah kebebasan pers. Media cetak dapat didirikan tanpa prosedur rumit seperti masa Orde Baru. Menteri Penerangan saat itu, Letjen (Purn) Muhammad Yunus Yosfiah, mengeluarkan lima izin televisi baru, salah satunya Metro TV.
Jejak tangan dingin Bakran Asmawi kembali terlihat di Metro TV. Ia menjadi mentor sekaligus rekan kerja yang bijaksana, serta menjadi co-author Panduan Kebijakan dan Standar Berita Metro TV semacam News Standards Editor sebagaimana lazim di media internasional seperti ABC, CNN, NBC, Sky News, dan Bloomberg.

Ketika Lativi bermetamorfosis menjadi TVOne berbasis berita, Bakran juga turut mewarnai transformasi itu. TVOne menyusul Metro TV sebagai televisi berita, sementara RCTI dengan Seputar Jakarta dan Seputar Indonesia tetap menjadi pelopor pemberitaan di televisi umum yang juga menayangkan hiburan.
Memasuki era digital, muncul pertanyaan tentang standar penyiaran ketika internet dan kecerdasan buatan berkembang sangat cepat. Tantangan berupa fake news dan clickbait menjadi persoalan serius.

Regulator seperti Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menghadapi pekerjaan rumah besar. Momentum kepergian Bakran Asmawi sebagai salah satu peletak dasar News Standards Editor di televisi mainstream menjadi pengingat penting bagi pembenahan standar di era digital.
Helmi Johannes, yang pernah membangun newsroom RCTI dan Metro TV sebelum bergabung dengan VOA di Washington DC, menuturkan pentingnya fungsi Standards Editor. “Dulu di VOA kami punya Steven Springer, mantan Standards Editor CNN, sehingga News Standards kami juga dikembangkan dari CNN. Almarhum Pak Bakran bisa dipandang sebagai cikal bakal Standards Editor di Metro TV,” ujarnya.

Kini setiap orang dapat menjadi penyiar melalui TikTok, Facebook, Instagram, X, Threads, dan platform lain. Tantangan regulasi tak lagi sebatas teknologi, melainkan moralitas, etika, dan tanggung jawab sosial.
KPI pernah menyusun Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Fetty Fajriati, mantan Komisioner KPI, menegaskan aturan itu lebih menitikberatkan pada dampak konten, seperti larangan fitnah, berita palsu, penghakiman, membuka aib, atau menyontohkan tindakan kriminal.

Namun pengalaman siaran langsung di platform digital menunjukkan pengawasan berbasis algoritma dan AI juga memiliki kelemahan, karena sering menyederhanakan konteks persoalan.
Sudah saatnya regulator tidak lagi bersikap reaktif. Negara-negara maju seperti Amerika lebih dini merumuskan pedoman media dengan melibatkan akademisi, teknokrat, psikolog, dan praktisi.

Kontroversi pemberitaan yang dianggap tidak berimbang, termasuk kritik keras Prabowo Subianto terhadap media tertentu, menunjukkan bahwa persoalan etika dan independensi media masih menjadi pekerjaan rumah.
Penulis berkesimpulan, apapun bentuknya—P3SPS atau dokumen hidup (living document)—standar penyiaran harus obyektif, berbasis aturan main, bukan pesanan politik.
Contoh aktual adalah ketika OJK menjatuhkan sanksi denda miliaran rupiah kepada seorang influencer saham di Bursa Efek Indonesia. Regulasi menjadi penting demi melindungi publik.

Dalam konteks politik yang lebih luas, reformasi 1998 mengajarkan bahwa perubahan sering lahir dari krisis besar. Namun tantangan kualitas kepemimpinan dan integritas institusi tetap menjadi ujian.
Bangsa ini memerlukan landasan kokoh dan komprehensif dalam penyiaran serta dunia digital di era revolusi 4.0.
Bakran Asmawi telah memberi sumbangsih penting pada masanya. Kini giliran generasi muda merumuskan dan memperbarui standar itu sebagai dokumen hidup yang adaptif terhadap zaman—demi menjaga nyala integritas seorang wartawan sejati.


R Mulia Nasution
Wartawan dan praktisi komunikasi kebijakan publik

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like

Hot News

Instagram
WhatsApp
Tiktok
error: Content is protected !!