Bendera Bajak Laut dan Ketakutan Negara |

Bendera Bajak Laut dan Ketakutan Negara

By

Yogyakarta, gugat.id – Belakangan ini, simbol bajak laut Jolly Roger dari serial One Piece berkibar di tangan anak-anak muda di berbagai penjuru Indonesia. Apa yang tampak seperti sekadar bentuk kesukaan pada budaya pop, perlahan berubah menjadi ekspresi identitas. Namun alih-alih dibiarkan sebagai ruang ekspresi, negara justru bereaksi represif: pembubaran, pelarangan, bahkan stigmatisasi. Negara tampak gelisah ketika anak muda mengibarkan bendera selain Merah Putih.

Pertanyaannya: mengapa negara takut pada bendera fiksi?

Baca juga: Bendera Bajak Laut One Piece: Simbol Perlawanan atau Ekspresi Kreatif Anak Muda?

Simbol Jolly Roger sudah melampaui dunia fiksi. Ia hidup sebagai lambang kebebasan, solidaritas, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Bagi sebagian anak muda, menjadi “bajak laut” bukan berarti memberontak tanpa arah tapi merdeka: dari rasa takut, dari kemunafikan, dari sistem yang gagal menjamin masa depan. Dan mereka punya alasan kuat untuk resisten.

Hampir setiap hari kita disuguhi berita korupsi: dari kementerian, kepala daerah, aparat hukum, hingga partai politik. Sementara itu, pelanggaran HAM dibiarkan mangkrak, dan praktik kriminalisasi terhadap aktivis, jurnalis, serta masyarakat adat terus terjadi. Perdagangan manusia dan pencucian uang tetap menjadi bisnis laten yang sulit disentuh hukum.

Di sisi lain, pengangguran terdidik meningkat, biaya hidup melonjak, dan akses pendidikan serta kesehatan masih jauh dari kata adil. Narkotika menggerogoti generasi muda, sementara penegak hukum lebih sibuk memburu pengguna kecil ketimbang membongkar jaringan besar.

Dalam lanskap seperti itu, simbol bajak laut tak lagi sekadar hiburan. Ia menjadi semacam algoritma hidup kompas moral baru saat institusi resmi kehilangan arah. Anak-anak muda melihat karakter One Piece bukan hanya sebagai tokoh kartun, tapi sebagai prinsip hidup: solidaritas, kejujuran, keberanian melawan penindasan, dan tekad mencari arti kebebasan sejati.

Namun ketika simbol ini dilarang, negara sedang memperlihatkan kecemasan: pada kebebasan yang tidak bisa dikendalikan.

Dalam perspektif sosiologi, makna tak pernah tunggal. Negara mungkin ingin mempertahankan simbol resmi sebagai satu-satunya tafsir kebangsaan. Tapi generasi muda menuntut ruang: untuk menafsirkan nasionalisme dengan cara mereka sendiri.

Larangan terhadap Jolly Roger bukan soal ketertiban semata. Ia adalah tanda bahwa negara takut pada kritik yang muncul dari budaya populer dari bahasa anak muda yang semakin otonom, nyeleneh, dan tidak bisa dikooptasi.

Daripada membungkam, negara seharusnya bertanya: mengapa anak muda memilih menjadi “bajak laut” alih-alih menjadi warga negara yang patuh?

Kaum muda bukan musuh. Mereka sedang berkata: nasionalisme tidak cukup dengan seremoni dan simbol. Mereka menuntut keadilan yang nyata, bukan hanya slogan. Mereka sedang menciptakan bahasa baru untuk mencintai negeri ini—dengan imajinasi, solidaritas, dan keberanian.

Dan kalau negara tak bisa menjawab suara itu, maka yang harus dikhawatirkan bukan bendera Jolly Roger. Yang lebih berbahaya adalah: hilangnya kepercayaan pada bendera negara itu sendiri.

(Red/Ali.H)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like

Hot News

Instagram
WhatsApp
Tiktok
error: Content is protected !!