Gunungkidul, gugat.id – Setiap tahun pada musim kemarau, warga Padukuhan Tungu,Kalurahan Girimulyo, Kapanewon Panggang, Gunungkidul harus membeli air dari tangki swasta, Jumat (14/7/2023).
Meski upaya pencarian sumber air bersih sudah dilakukan warga, namun hal itu belun juga membuahkan hasil. Pencarian yang melibatkan ahli tersebut untuk mendapatkan sumber air dekat yang dengan permukiman masih jauh dari harapan.
Rahmadi Ketua Rt 01/01 Padukuhan Tunggu, Kalurahan Girimulyo, Kapanewon Panggang, Gunungkidul mengatakan butuh biaya besar untuk mengolah sumber air yang ada saat ini.
“Sebenarnya di Padukuhan kami ada sumber air, tapi lokasinya dekat laut. Jaraknya sekitar enam kilometer dari rumah warga sehingga tidak bisa dimanfaatkan karena butuh biaya besar untuk mengangkatnya,” Kata Rahmadi.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, selama musim penghujan warga menampung air hujan menggunakan bak penampungan air hujan (PAH). Air yang ditampung tersebut sebagian besar hanya bertahan selama dua minggu saja setelah hujan berhenti.
Saat musim kemarau, air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari harus membeli dari tangki swasta. Harga kapasitas 5.000 liter di kisaran Rp 150.000 hingga Rp 200.000.
Wilayah Padukuhan Tungu, sudah ada aliran PDAM namun sering mati, dan harus bergantian dengan warga lainnya, warga berharap kedepan akan ada peningkatan layanan dari PDAM
“Semoga ditingkatkan layanan dari PDAM”, pungkas Rahmadi.
Secara terpisah Direktur Utama PDAM Tirta Handayani, Toto Sugiharto mengakui layanan PDAM di Padukuhan Tungu memang belum maksimal. Pihaknya sudah berencana meningkatkan kapasitas produksi dari sumber Ngobaran di Kalurahan Kanigoro, Saptosari.
Baca juga: https://www.gugat.id/mahasiswa-fti-ukdw-kembangkan-alat-penyaring-udara/
“Dengan peningkatan produksi di Ngobaran, maka layanan di wilayah seperti Pangang, Purwosari, Paliyan dan Saptosari akan bisa lebih optimal lagi”, ujar Toto.
(Red/PP)