YOGYAKARTA, gugat.id – Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menggelar pelatihan pembuatan eco enzyme bagi penyandang disabilitas di wilayah Sedayu, Bantul, pada 18 Juli 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian masyarakat UKDW yang dirancang oleh tim dosen dan mahasiswa, dengan dukungan hibah dari United Board for Christian Higher Education in Asia.
Melalui pendekatan berbasis lingkungan dan pemberdayaan, pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas komunitas rentan dalam mengolah limbah organik secara berkelanjutan. Sebanyak 21 peserta dari kalurahan Argosari, Argomulyo, Argodadi, dan Sumberrahayu mengikuti kegiatan yang berlangsung di rumah produksi kelompok Pinilih Sedayu.
Dr. Laurentia Henrieta Permita Sari P., S.Si., dosen Fakultas Bioteknologi UKDW, menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak semata soal keterampilan teknis, namun juga tentang membuka ruang inklusi bagi kelompok yang selama ini termarjinalkan.
“Kami ingin membangun kesadaran bahwa limbah organik bukan hanya sampah, tetapi juga sumber daya yang dapat dikelola menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomi, terutama bagi kelompok yang selama ini kurang terlibat dalam kegiatan produktif. Melalui kegiatan ini, kami berharap komunitas yang lebih rentan dapat memperoleh ruang untuk tumbuh dan berkembang bersama, tanpa tertinggal oleh sistem sosial yang ada,” ujar Dr. Mita.
Pelatihan dibagi dalam dua sesi utama. Pertama, pengenalan konsep eco enzyme dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari—seperti sebagai pembersih alami, pupuk cair, dan pengusir hama. Kedua, sesi praktik langsung membuat eco enzyme dari kulit buah dan sayuran, mulai dari menyiapkan bahan, proses fermentasi, hingga pelabelan produk.

Mahasiswa UKDW terlibat aktif dalam setiap tahapan kegiatan sebagai asisten pelatihan. Kolaborasi ini menciptakan ruang belajar bersama yang inklusif, memperkuat rasa kepemilikan komunitas, serta menumbuhkan semangat kolaboratif dalam menciptakan solusi lokal.
Ketua Forum Keluarga Penyandang Disabilitas Sedayu Pinilih, Maria Tri Suhartini, menyampaikan apresiasinya terhadap pelatihan ini sebagai bentuk perhatian terhadap dua isu penting: lingkungan dan pemberdayaan disabilitas.
“Salah satu tujuan besar dari komunitas ini adalah menjaga kelestarian lingkungan. Melalui pembuatan eco enzyme, anggota kami dan masyarakat sekitar semakin terdorong untuk lebih peduli dan sadar dalam mengolah sampah organik,” ujarnya.
Selain pelatihan teknis, tim UKDW juga melakukan observasi kebutuhan lokal yang akan menjadi dasar pengembangan program lanjutan. Ke depan, pelatihan akan diperluas ke pembuatan produk turunan seperti sabun alami, pelatihan kewirausahaan, dan strategi pemasaran produk-produk ramah lingkungan.
Pelatihan lanjutan direncanakan berlangsung pada Agustus mendatang dengan narasumber Dwi Aditiyarini, S.Si., M.Biotech., M.Sc., yang akan membawakan sesi tentang pemanfaatan eco enzyme sebagai bahan dasar sabun.
Dengan semangat keberlanjutan dan keberpihakan pada komunitas marjinal, program ini diharapkan mampu menciptakan ruang hidup yang sehat, berdaya, dan inklusif, sekaligus menjadikan penyandang disabilitas bagian aktif dari ekosistem ekonomi hijau yang terus tumbuh di masyarakat.
(Redaksi)