YOGYAKARTA, gugat.id – Mutiara Anindyana Hapsari mencatatkan prestasi luar biasa sebagai wisudawan termuda dalam prosesi wisuda Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode III Tahun Akademik 2024/2025, yang digelar Rabu (28/5) di Grha Sabha Pramana. Di usianya yang baru 19 tahun 1 bulan 9 hari, ia berhasil menyelesaikan studi sarjana dari Fakultas Farmasi dengan predikat cumlaude, jauh lebih muda dibanding rata-rata usia kelulusan mahasiswa sarjana UGM yang berada di kisaran 22 tahun 6 bulan 15 hari.
Keberhasilan Mutiara bukanlah hasil instan. Sejak duduk di bangku SD dan SMP, ia telah mengikuti program akselerasi pendidikan. Keputusan tersebut lahir dari dorongan pribadi dan dukungan keluarga. Terpaut usia 13 tahun dengan sang kakak, Mutiara kecil sudah memiliki mimpi untuk lulus sarjana saat orang tuanya masih muda. “Pemikiran saya saat kecil dulu, cuma ingin cepat lulus agar nanti saat saya sarjana, orang tua saya masih muda. Keluarga saya juga sangat mendukung waktu itu,” ujarnya, Sabtu (31/5).
Menjadi mahasiswa termuda di lingkungan kampus tentu membawa tantangan tersendiri. Mutiara mengaku sempat mengalami masa-masa sulit, terutama saat awal perkuliahan. “Awal kuliah mungkin terasa susah, masih belum familiar sama lingkungan baru, dan pastinya harus menyesuaikan tempo belajar sama yang lainnya. Apalagi karena harus merantau keluar kota sendiri,” kenangnya.
Namun seiring waktu, Mutiara berhasil menyesuaikan diri. Ia belajar mandiri, mulai nyaman dengan lingkungan kampus, dan mendapat teman-teman yang suportif. “Saya sangat bersyukur karena mendapat lingkungan pertemanan yang suportif,” ucapnya.
Selama 3,5 tahun masa kuliahnya, Mutiara aktif dalam berbagai kegiatan kampus, termasuk organisasi, kepanitiaan, menjadi asisten laboratorium, hingga terlibat dalam proyek penelitian. Skripsinya mengangkat topik kosmetika berbahan alam dengan judul Optimasi HPMC dan Karbopol serta Uji Aktivitas Tabir Surya dan Sifat Fisik Gel Ekstrak Biji Coffea arabica dan Minyak Biji Vitis vinifera L. secara In Vitro. “Saya ambil topik formulasi kosmetika dari bahan alam karena memang tertarik ke arah sana,” jelasnya.
Di balik segala pencapaian itu, Mutiara tetap membumi. Ia menyadari bahwa perjalanan akademik tak lepas dari kebingungan dan tantangan yang kerap dialami mahasiswa. “Dulu aku juga sempat ada di fase bingung sama arah dan tujuan, mungkin fase ini banyak dialami sama kita sebagai mahasiswa. Tapi pesan aku, enjoy the process aja dan jangan lupa buat explore banyak hal baru,” pesannya.
Dengan semangat belajar, keinginan kuat, dan dukungan lingkungan sekitar, Mutiara membuktikan bahwa usia bukanlah batas untuk meraih impian. Kisahnya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus bergerak maju, menembus batas, dan berani mengambil langkah lebih awal dalam mengejar cita-cita.
(Redaksi)