Tegal, Gugat.id – Semangat perjuangan kaum marhaen kembali digaungkan dari Kabupaten Tegal. Bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila, organisasi Pejuang Marhaenis Nusantara (PMN) menggelar pengukuhan kepengurusan Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) PMN Kabupaten Tegal periode 2026–2030 di Wisata Rodjo Tater, Desa Bogares Kidul, Kecamatan Pangkah, Senin (1/6/2026).
Acara yang berlangsung penuh semangat kebangsaan itu tidak sekadar menjadi seremoni pergantian kepemimpinan. Di tengah suasana yang sarat nilai gotong royong dan nasionalisme, para kader PMN menegaskan komitmen untuk menghidupkan kembali ajaran Marhaen yang selama ini dikenal sebagai simbol keberpihakan kepada rakyat kecil dan kaum tertindas.
Kegiatan ini juga dihadiri seluruh jajaran pengurus Dewan Komisariat PMN di tingkat kecamatan se-Kabupaten Tegal, yang turut memberikan dukungan terhadap kepengurusan baru dan penguatan konsolidasi organisasi hingga ke akar rumput.
Ketua DPP PMN Jawa Tengah, Puji Krisdyantoro, menaruh harapan besar terhadap kepengurusan baru PMN Kabupaten Tegal. Menurutnya, komposisi pengurus yang berasal dari berbagai latar belakang dan lapisan masyarakat menjadi modal penting untuk menjadikan PMN Tegal sebagai contoh bagi daerah lain di Jawa Tengah.
”Saya sangat mengapresiasi dan mendukung PMN Kabupaten Tegal. Semoga menjadi role model dan tonggak sejarah baru. Saya yakin dari Kabupaten Tegal akan muncul tokoh-tokoh luar biasa yang bisa menjadi contoh bagi kabupaten lain untuk memajukan PMN Jawa Tengah lima tahun ke depan,” ujar Puji.
Ia menilai struktur kepengurusan PMN Kabupaten Tegal termasuk yang paling lengkap karena diisi figur-figur berpengalaman dari berbagai sektor. Kondisi tersebut dinilai mampu memperkuat organisasi dalam menjalankan program sosial, kebencanaan, hingga pemberdayaan masyarakat akar rumput.
Sementara itu, Ketua DPK PMN Kabupaten Tegal, H. Chalimi, menegaskan bahwa PMN tidak ingin terjebak dalam aktivitas seremonial semata. Menurutnya, organisasi harus hadir sebagai gerakan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya kelompok yang selama ini terpinggirkan oleh berbagai persoalan sosial dan ekonomi.

”Marhaenis adalah ajaran yang membela kaum kecil, kaum tertindas, dan mereka yang terpinggirkan oleh sistem. Ke depan, PMN bukan hanya berbicara slogan, tetapi memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa ajaran Marhaen adalah ajaran kemanusiaan yang menjunjung keadilan dan perikemanusiaan,” tegas Chalimi.
Ia mengaku menerima amanah sebagai ketua karena melihat adanya keselarasan antara nilai-nilai perjuangan Marhaen dengan panggilan pribadinya untuk mengabdi kepada masyarakat. Baginya, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan sarana untuk menghadirkan manfaat bagi bangsa dan negara.
Dengan semangat Hari Lahir Pancasila sebagai fondasi, PMN Kabupaten Tegal kini menatap masa depan dengan optimisme. Dari sebuah kawasan wisata di lereng Tegal, gaung perjuangan Marhaen kembali dikobarkan—membawa harapan agar keadilan sosial tidak hanya menjadi cita-cita, melainkan benar-benar hadir di tengah kehidupan masyarakat.
Pewarta : R. Latief