Surakarta, Gugat.id – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta sukses menyelenggarakan rangkaian pelatihan bagi para perajin gerabah dan pemilik UMKM di Desa Wisata Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten pada (18/7/2026). Kegiatan ini bertajuk “Pemberdayaan Ekonomi Desa Wisata Melikan melalui Co-Design Gerabah sebagai Elemen Interior Kontemporer Berbasis Identitas Lokal ” yang bertujuan untuk mentransformasi produk tradisional menjadi elemen gaya hidup modern tanpa meninggalkan akar budaya setempat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Kepada Masyarakat yang didanai melalui skema pendanaan DIPA ISI Surakarta Tahun Anggaran 2026. Tim pelaksana dipimpin oleh Dr. Ir. Tri Prasetyo Utomo, M.Sn., didampingi oleh Neni Nurul Rosalina, M.Ars., dan Zulfa Miflatul Khoirunnisa, S.Ds, M.A., serta melibatkan mahasiswa dari prodi Arsitektur.
Dalam sesi pertama, Neni Nurul Rosalina, M.Ars. memperkenalkan konsep co-design sebagai strategi pengembangan produk gerabah menuju elemen interior kontemporer. Materi yang disampaikan mengulas perubahan tren pasar dari produk yang semata-mata bersifat fungsional menjadi produk dekorasi dan gaya hidup (lifestyle products). Peserta diajak memahami berbagai tren desain interior global, seperti Japandi, Wabi-Sabi, Organic Modern, dan Scandinavian, yang dinilai selaras dengan karakter alami Gerabah Melikan.
Melalui berbagai referensi desain, peserta diperkenalkan pada pengembangan produk berupa vas kontemporer, lampu meja dan lampu gantung berbahan gerabah, diffuser aromaterapi, incense holder, jewelry tray, hingga coaster dengan pendekatan bentuk yang lebih sederhana, proporsional, dan sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Dalam pelatihan juga ditekankan bahwa inovasi tidak berarti meninggalkan teknik tradisional. Teknik putar miring khas Melikan tetap dipertahankan sebagai identitas utama, sementara inovasi dilakukan melalui eksplorasi bentuk, fungsi, proporsi, dan finishing seperti natural terracotta, whitewash, two-tone finish, serta matte earth tone.

Sesi berikutnya disampaikan oleh Zulfa Miflatul Khoirunnisa, S.Ds., M.A, yang mengangkat pentingnya membangun branding dan strategi pemasaran digital bagi pengrajin. Materi mencakup penyusunan identitas merek, pembuatan logo, pengemasan produk yang menarik, pemanfaatan media sosial dan marketplace, hingga penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu penyusunan konten promosi. Peserta juga memperoleh contoh desain kemasan yang sederhana namun memiliki nilai estetika sehingga dapat meningkatkan persepsi kualitas produk di mata konsumen.
Pada sesi penutup, tim PKM memperkenalkan konsep visual merchandising dan penataan showroom sebagai strategi meningkatkan nilai jual produk sekaligus memperkuat daya tarik Desa Wisata Melikan. Materi menekankan bahwa kualitas produk perlu didukung dengan penyajian yang baik melalui penataan ruang, pengelompokan produk, pencahayaan hangat, penyediaan ruang kosong (negative space), serta penyampaian cerita (storytelling) mengenai setiap produk. Konsep showroom yang diusulkan diarahkan untuk mentransformasikan ruang pamer dari sekadar toko suvenir menjadi galeri kriya kontemporer yang mampu memberikan pengalaman berkunjung yang lebih menarik bagi wisatawan.
Harapan Masa Depan
Dr. Ir. Tri Prasetyo Utomo, M.Sn. berharap program ini dapat mengatasi kendala stagnasi inovasi dan memperluas akses pasar ke sektor perhotelan dan kafe (hospitality). “Kita tidak harus membuang tradisi untuk menjadi modern. Dengan pendekatan co-design, perajin dan desainer berkolaborasi menciptakan produk yang relevan dengan zaman namun tetap memiliki cerita budaya yang kuat,” ujarnya.
Program ini diharapkan mampu memperkuat identitas Desa Melikan sebagai destinasi wisata kriya unggulan, meningkatkan pendapatan perajin, dan mendukung keberlanjutan ekonomi kreatif di Kabupaten Klaten.
(Red)