Yogyakarta, gugat.id – Tradisi Ruwahan “ Ngapem Bareng” Lintas Agama Kampung Miliran, Ruwahan merupakan sebuah tradisi mengirim doa dan memohonkan keselamatan arwah-arwah leluhur yang sudah turun-temurun dilakukan oleh masyarakat. Tradisi ini menjelma menjadi sebuah budaya yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta tanpa terbatasi oleh perbedaan Agama serta kepercayaan yang ada dan tumbuh di kampung miliran Yogyakarta..
Kampung Miliran sebagai sebuah kampung yang menjunjung tinggi pluralisme dan berkeinginan untuk berperan serta dalam melestarikan tradisi yang sudah berkembang menjadi sebuah budaya. Kebudayaan inilah yang akan mengingatkan dan menghadirkan pentingnya solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat. Adanya tradisi ruwahan ini bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan serta gotong royong umat bergama yang ada di kampung miliran, dan juga sebagai penghubung komunikasi yang baik antar warga.
Mbah warto, yang menjadi salah satu tokoh atau sesepuh di Rt, 13 yang berada dikampung miliiran, dia mengatakan bahwa, tradisi ini sudah ada sejak lama sebagai satu kebiasaan untuk mempererat tali persaudaraan dan menjaga kesinambungan antar umat beragama yang ada di kampung Miliran Yogyakarta.
Menariknya, tradisi ini dilakukan secara besar besaran baru dari tahun 2023 yang digagas oleh warga Rt 13 kampung miliran. Di tahun kemarin warga RT 13 menyelenggarakan tradisi ini menjelang bulan suci Ramadhan dengan bentuk kegiatan perkumpulan warga dan membagi bagikan apem keseluruh warga setempat baik Islam, Khatolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Khonghucu, bahkan sampai kepada mahasiswa yang notabenya bukan warga kampung miliran tapi tinggal di sekitaran kampung tersebut.
menurut Hartoyo ketua RT 13
Kemudian, di tahun ini pegelaran tradisi ruwahan akan di laksanakan oleh warga kampung miliran yang diikuti oleh 15 RT yang ada di kampung miliran Yogyakarta. Dengan mengangkat tema Tradisi Ruwahan “ Ngapem Barreng” Lintas Agama Kampung Miliran.
“Sebagai bentuk menyambut bulan suci Ramadhan. Kegiatan ini akan dilangsungkan pada Hari Minggu Tanggal 25 Februari 2024, Pukul 14:00, dan bertempat di Balai Warga Miliran dan finishnya di lahan Laudatosi Rt. 01, Rw. 001″ ujarnya Senin (26/02/24)
Kirab Gunungan Apem bersama dengan Prajurit Bregada “Guyub Rukun Migunani” Kampung Miliran, kemudian doa Lintas Agama Islam, Kristen, Katholik, Budha, Hindu, dan Khonghucu dilanjutkan dahar kembul bersama seluruh perwakilan elemen Kampung Miliran.
Disamping itu juga, walaupun lekat dengan unsur Jawa dan Islam, tradisi Ruwahan dan Nyadran di Kampung Miliran dimaknai sebagai momentum kebersamaan seluruh warga. Tidak seluruh warga Miliran merupakan etnis Jawa dan tidak semua adalah muslim. Namun, seluruh warga menyadari bahwa mereka hidup dalam ruang bersama, yang di dalamnya kultur bersama juga diciptakan.
Semangat kebersamaan dan prinsip kewargaan ini menjadi pesan yang akan terus digaungkan oleh komunitas Kampung Miliran. Sesepuh kampung, seperti Mbah Warto, menjadi sumber pengetahuan yang dihargai dan akan dilestarikan pemaknaannya oleh generasi muda kampung kota di Yogyakarta ini.

Hikmah yang bisa dipetik dari tradisi ini salah satunya adalah keikhasan untuk saling memaafkan, sebagai persiapan mental sebelum melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Tradisi Ruwahan, yang biasanya juga diikuti dengan tradisi “nyadran” di makam kampung atau keluarga, mengajak kita untuk terus ingat pada kematian. Ziarah kubur dilakukan untuk mendoakan arwah leluhur. Umat muslim diingatkan untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri pada Allah, Tuhan Sang Pencipta.
Hartoyo yg sekaligus humas acara tersebut menyampaikan, tradisi ruwuhan melambangakan betapa beragamnya dan toleransinya warga kampung miliran Yogyakarta, di tengah gempuran gerakan ekstrim yang kerap kali terjadi di Yogyakarta.
“Semoga saja tradisi ini bisa menjadi contoh bagi seluruh masyarakat Indonesia, khusunya Daerah Istimewa Yogyakarta bahwa keragaman dan toleransi sudah menjadi cikal bakal penduduk Indonesia. Dan juga kedepanya tradisi ini menjadi tradisi rutinan di kampung miliran Yogyakarta” jelasnya.
(redaksi)