Heterogeneous #2 Perkuat Diplomasi Budaya Indonesia–Korea Lewat Panggung Musik |

Heterogeneous #2 Perkuat Diplomasi Budaya Indonesia–Korea Lewat Panggung Musik

By

Surakarta , Gugat.id – Musik kembali menjadi jembatan diplomasi budaya antara Indonesia dan Korea Selatan. Pusat Studi Musik Asia Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menghadirkan Heterogeneous #2: Musik Persahabatan Indonesia–Korea, sebuah konser kolaboratif yang mempertemukan musisi dari kedua negara dalam satu panggung untuk membangun dialog lintas budaya melalui bahasa musik.

Pertunjukan akan digelar di Teater Kecil KRT Kusuma Kesawa ISI Surakarta pada Jumat, 24 Juli 2026, pukul 19.00 WIB. Melalui kolaborasi ini, musik diposisikan bukan sekadar hiburan, tetapi sebagai medium pertukaran gagasan, penguatan hubungan antarbangsa, sekaligus ruang perjumpaan dua tradisi yang tetap mempertahankan identitas budayanya.

Heterogeneous #2 merupakan lanjutan dari Heterogeneous: Sinamadan yang diselenggarakan pada 2025. Pada edisi kedua ini, eksplorasi musikal dikembangkan lebih luas dengan menghadirkan dialog antara tradisi musik Indonesia dan Korea tanpa menghilangkan karakter khas masing-masing. Perbedaan justru menjadi kekuatan yang melahirkan warna artistik baru.

Program yang diinisiasi Pusat Studi Musik Asia ISI Surakarta ini menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi seni dalam memperkuat kerja sama internasional melalui diplomasi budaya. Pertunjukan diharapkan tidak hanya mempererat hubungan antarmusisi, tetapi juga membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan, riset, dan pertukaran budaya.

Direktur Pusat Studi Musik Asia ISI Surakarta sekaligus Direktur Program Heterogeneous #2, Dr. Aris Setiawan, S.Sn., M.Sn., mengatakan musik memiliki kekuatan universal untuk mempertemukan berbagai kebudayaan dalam ruang yang setara.

Musik memiliki kemampuan mempertemukan dua kebudayaan dalam ruang dialog yang setara. Kami berharap Heterogeneous tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang lahirnya kolaborasi akademik, penelitian, dan pertukaran budaya yang berkelanjutan,” ujar Aris.

Selama kurang lebih 90 menit, penonton akan disuguhkan enam repertoar yang membawa perjalanan musikal dari akar tradisi hingga eksplorasi kontemporer. Setiap sajian dirancang sebagai bentuk percakapan artistik yang memperlihatkan bagaimana dua tradisi dapat saling menginspirasi tanpa kehilangan jati diri.
Konser akan dibuka dengan penampilan Samulnori, ensambel perkusi tradisional Korea yang dibawakan kelompok Bolo Peteng bersama etnomusikolog asal Korea Selatan, Dr. Chung Ji Pyo. Musik rakyat yang lahir dari kehidupan masyarakat agraris Korea tersebut dikenal dengan permainan ritmis yang dinamis dan semangat kebersamaan yang kuat.

Salah satu penampilan yang paling dinantikan datang dari Bolo Peteng, kelompok yang beranggotakan empat mahasiswa difabel netra Program Studi Etnomusikologi ISI Surakarta, yakni Sahrul Sultana, Satria Nugraha, Andreas Satrio Aji, dan Bimo Angga Saputra. Melalui kepekaan pendengaran dan penghayatan musikal yang mendalam, mereka menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk melahirkan karya yang mampu menyentuh batas-batas kemanusiaan. Penampilan ini sekaligus menegaskan komitmen ISI Surakarta dalam menghadirkan ruang seni yang inklusif dan setara bagi semua.

(Red)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like

Hot News

Instagram
WhatsApp
Tiktok
error: Content is protected !!