GUNUNGKIDUL, Gugat.id – Jarum jam tepat menunjuk pukul 00.00 WIB. Senin, 17 Agustus 2026. Di saat detik-detik Indonesia memasuki usia ke-81, seluruh lampu di Taman Makam Pahlawan Bhakti Pertiwi, Jeruk Sari, Wonosari dipadamkan. Yang tersisa hanya nyala obor, cahaya lilin, dan barisan Forkompinda Gunungkidul yang berdiri tegak di atas tanah para kusuma bangsa.
Di momen paling sakral itu, Upacara Apel Kehormatan dan Renungan Suci (AKRS). digelar. Bukan sekadar tradisi. Ini adalah janji.Di Bawah Langit Jeruk Sari, Semua Setara
Sekitar 100 orang hadir malam itu. Tidak ada beda Bupati, Dandim, Kapolres, atau warga biasa. Yang ada hanya manusia yang sedang berhutang budi.
Hadir Bupati Endah Subekti Kuntariningsih.SE.MP,Wakil Bupati Joko Parwoto, Sekda Drs. Sri Suhartanta, Dandim 0730/Gunungkidul Letkol Inf Alfian Yudha Praniawan, Kapolres AKBP Damus Asa, Danlanud Gading Mayor Lek Marwan Ketua DPRD Endang Sri Sumiyartini, hingga Ketua PN Gunungkidul Junita Pancawati yang bertindak sebagai Inspektur Upacara. Komandan Upacara dipercayakan kepada Kapten Arm Suharta.
Tampak juga jajaran OPD, Bawaslu, KPUD, FKUB, Kemenag, BUMD, para Panewu, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, dan para sesepuh LVRI Gunungkidul. Barisan upacara terdiri dari Pama TNI-Polri, 2 pleton bersenjata, dan Saka Wira Kartika.
31 Nisan, 31 Kisah Pengorbanan
Renungan dimulai dengan penghormatan bersangkur. Lalu, suara Kepala PN Gunungkidul menggema membacakan Apel Kehormatan.

“Pada tanggal 17 Agustus 2026, pukul 00.00 WIB, kami yang hadir dalam upacara Renungan Suci ini, dengan penuh rasa hormat dan khidmat mengenang jasa serta pengorbanan para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan.”
Di TMP Bhakti Pertiwi ini terbaring 31 pahlawan: 16 dari TNI, 2 dari Polri, 9 pejuang rakyat, dan 4 pahlawan tak dikenal, Mereka punya nama, punya keluarga, punya cita-cita. Tapi mereka memilih gugur agar kita bisa merayakan 17 Agustus hari ini.
“Kami menyatakan penghormatan yang sebesar-besarnya atas keikhlasan dan kesucian pengorbanan Saudara-Saudara sebagai pahlawan dalam pengabdian terhadap perjuangan demi kebahagiaan negara dan bangsa,” lanjut pembacaan.
Lalu kalimat yang paling menggetarkan:
“Kami bersumpah dan berjanji bahwa perjuangan Saudara-Saudara adalah perjuangan kami pula, dan jalan kebaktian yang Saudara-Saudara tempuh adalah jalan kami juga.”
60 detik mengheningkan cipta. Sunyi. Hanya doa dari Kemenag Gunungkidul yang memecah hening. Lilin dinyalakan Saka Wira Kartika, satu persatu menerangi nama-nama di nisan.
Dari Renungan ke Tanggung Jawab
Usai upacara, Bupati Endah bersama Forkompinda berjalan menabur bunga. Menyentuh setiap nisan. Seolah berbisik: terima kasih.
AKRS ini agenda rutin tiap tahun. Tapi maknanya tidak pernah basi. Karena setiap 17 Agustus, kita diingatkan: kemerdekaan ini bukan warisan, tapi amanah.
“Mereka berjuang dengan darah. Kita mengisi dengan karya. Mereka menjaga dengan nyawa. Kita menjaga dengan persatuan, kerja, dan kejujuran,” menjadi pesan yang menguat sepanjang malam.
Dari Malam Tirakatan di Sewokoprojo, ke Renungan Suci di Bhakti Pertiwi. Forkompinda Gunungkidul menutup malam pertama HUT RI ke-81 dengan satu pesan: Kami ingat. Kami berjanji. Kami akan melanjutkan.