YOGYAKARTA, gugat.id – Di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) yang semakin menggeser peran manusia dalam berbagai profesi, terutama di bidang ekonomi dan akuntansi, muncul satu pertanyaan mendasar: masih perlukah nilai-nilai budaya dijadikan dasar dalam proses pembelajaran? Jawaban yang muncul tidak sesederhana ya atau tidak. Namun banyak pakar kini mendorong integrasi antara nilai religiusitas dan kearifan lokal, termasuk falsafah Jawa, sebagai penyeimbang dalam pendidikan yang serba digital ini.
Sistem pendidikan ekonomi dan akuntansi di Indonesia saat ini dinilai terlalu berorientasi pada model Barat, tanpa mempertimbangkan karakteristik sosial budaya masyarakat lokal. Padahal, di era Society 5.0, ketika AI mulai mampu meniru bahkan menggantikan pola pikir dan perilaku manusia, keberadaan nilai luhur budaya menjadi penuntun penting untuk menjaga etika dan kemanusiaan.
Kearifan lokal, termasuk filosofi Jawa, menawarkan banyak prinsip kehidupan yang bisa diintegrasikan dalam pembelajaran ekonomi dan akuntansi. Misalnya pepatah “Gusti ora sare” (Tuhan tidak tidur) dapat mengajarkan calon akuntan dan pelaku bisnis untuk selalu ingat kepada Tuhan dalam setiap keputusan keuangan yang diambil. “Ini bisa menjadi modal dasar karakter agar tidak melakukan penyimpangan, karena merasa setiap langkah diawasi oleh Yang Maha Mengetahui,” tulis penulis dalam narasinya.
Contoh lain adalah pepatah “Manuk esuk-esuk metu sak jerone luwe, mulih sore iso dadi wareg”, yang sejajar dengan hadis Nabi Muhammad riwayat At-Tirmidzi tentang tawakal dan ikhtiar. Pesan yang dibawa keduanya adalah tentang kerja keras dan keyakinan bahwa rezeki akan datang kepada mereka yang berusaha, bahkan ketika harus bersaing dengan mesin.
Peribahasa lain yang juga relevan dalam dunia akuntansi dan bisnis adalah “Becik ketitik, olo ketoro”, yang menekankan pentingnya integritas dan transparansi. “Dalam dunia profesi seperti auditor, etika menjadi hal mutlak, dan AI sekalipun bisa digunakan untuk menipu jika tidak dikendalikan dengan prinsip moral manusia,” jelas penulis.
Falsafah “Alon-alon asal kelakon” mengajarkan kesabaran dan ketekunan, dua hal yang mulai terpinggirkan dalam budaya kerja modern yang serba instan. Sementara pepatah “Ojo dumeh” adalah tameng bagi profesional agar tidak larut dalam kesombongan atas kelebihan yang dimiliki. Dan filosofi “Memayu hayuning bawana” mengajarkan bahwa setiap tindakan bisnis dan keuangan harus berdampak positif bagi lingkungan dan sesama, bukan sekadar keuntungan pribadi.
Penulis menekankan bahwa pendekatan ini dapat diterapkan melalui model pembelajaran 4-D (Define, Design, Develop, Disseminate) yang sudah diadaptasi dalam konteks lokal. Setiap tahap dimulai dari mendefinisikan tujuan pembelajaran, merancang media dan modul, mengembangkan bahan ajar yang divalidasi oleh ahli dan diuji coba ke mahasiswa, hingga akhirnya disebarluaskan sebagai model yang dapat direplikasi di berbagai institusi.
“Nilai adiluhung dalam budaya bukan sekadar pelengkap, tetapi fondasi penting agar manusia tetap menjadi subjek utama dalam dunia yang semakin dikendalikan teknologi. Ekonomi dan akuntansi bukan hanya soal angka, tetapi soal keadilan, tanggung jawab, dan kejujuran,” tutup penulis penuh harap.
Di tengah derasnya perubahan zaman, falsafah Jawa tetap memberi arah: bahwa kemajuan teknologi tidak akan berarti jika tidak dibarengi dengan kedalaman nurani. Sebab, hanya manusia berkarakterlah yang bisa menggunakan AI dengan bijak.
(Redaksi)