YOGYAKARTA, gugat.id – Kerja sama antara Indonesia, Jepang, dan Malaysia dalam pengembangan ekonomi halal semakin menguat melalui model Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur. Sebuah pendekatan khas Indonesia yang mengusung semangat kebersamaan dan keberkahan dalam kewirausahaan, diperkenalkan ke forum internasional pada Maret 2025 dalam rangkaian workshop yang diselenggarakan oleh Asia-Japan Research Institute (AJI) Ritsumeikan University dan Grants-in-Aid for Scientific Research (KAKENHI).
Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D, yang juga dosen FEB UGM sekaligus Ketua Departemen Industri Halal MES DIY, tampil sebagai salah satu pembicara. Ia mempresentasikan konsep Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur on Halal: Iconic People Movement on New Entrepreneurship Development’s Standardization to Support Halal Economy.
“Indonesia memiliki segalanya, tetapi seolah tidak memiliki apa-apa. Banyak potensi, namun belum menjadi kekuatan ikonik yang mendunia. Ikonik tidak lahir dari hasil, tapi dari perjalanan dan proses yang dihargai,” ungkap Rika.

Model G2R Tetrapreneur menitikberatkan pada penciptaan ekosistem kewirausahaan yang berpihak kepada produsen lokal dan tidak tunduk pada dominasi kapital besar. Ekosistem ini dinilai lebih adil karena memungkinkan pelaku usaha bertumbuh sesuai dengan fasenya. Untuk menguatkan konsep ini, pada 2024 telah dibentuk Komite Teknis 03-13 Manajemen Ekonomi Kolaboratif yang bertugas menyusun SNI G2R Tetrapreneur sebagai standar resmi.
Rika menekankan bahwa G2R bukan sekadar model bisnis, tetapi juga filosofi yang menjunjung nilai spiritual dalam ekonomi.
“Pasar itu memang penting, tetapi yang lebih penting adalah menciptakan sebuah ekosistem yang berpihak terhadap wirausaha asli tanah air,” katanya.
Konsep rezeki menjadi landasan utama dalam model ini. Rezeki dipandang sebagai ketetapan dari Allah SWT, bukan semata hasil kerja atau keuntungan bisnis.

“…dalam berkegiatan ekonomi… terkadang variasi dalam masyarakat tidak semata berkontribusi dalam bentuk uang, namun hanya memiliki waktu, atau ide, bahkan tenaga yang diberikan sebagai salah satu bentuk kontribusi mereka, dan itu sama sekali tidak masalah, itulah gotong royong,” ujar Rika.
Workshop internasional ini turut menghadirkan sejumlah akademisi terkemuka dari Jepang dan Malaysia. Mereka membahas berbagai aspek penting dalam sistem ekonomi Islam dan sertifikasi halal. Seluruh diskusi mengarah pada satu tujuan besar: membangun ekosistem halal yang kuat, berkelanjutan, dan berbasis nilai.
Model G2R Tetrapreneur juga diarahkan dalam payung pembangunan Kawasan Halal, selaras dengan cetak biru ekonomi syariah Bank Indonesia dan Master Plan Industri Halal Indonesia 2023–2029. Diharapkan, pendekatan ini mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri halal dunia.
“…dengan banyaknya sistem, kapitalis, sosialis, dan lainnya yang berorientasi kepada uang, Global Gotong Royong mengembalikan konsep rezeki bahwa semua yang didapatkan tidak hanya terbatas kepada uang, namun juga berbagai kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT sehingga memunculkan keyakinan mutlak ketetapan Allah SWT dan semua adalah milik Allah SWT,” pungkas Rika.
(Redaksi)