HTD ISI Surakarta Dua Dekade, 24 Jam Menari Jadi Ruang Dialog Lintas Budaya |

HTD ISI Surakarta Dua Dekade, 24 Jam Menari Jadi Ruang Dialog Lintas Budaya

By

SURAKARTA, gugat.id– Perhelatan Hari Tari Dunia (HTD) melalui agenda 24 Jam Menari di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta resmi memasuki usia dua dekade. Tahun ini, kegiatan bergengsi tersebut hadir dengan tema “Tanpa Batas Menembus Medan Budaya”, menegaskan tari sebagai ruang inklusif yang mampu menyatukan beragam budaya dan generasi.

Rektor ISI Surakarta, Bondet Wrahatnala, menegaskan bahwa penyelenggaraan HTD bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bentuk nyata komitmen kampus seni dalam merawat, mengembangkan, dan menyebarluaskan praktik tari sebagai bagian penting kehidupan sosial budaya.

Dua dekade perjalanan ini bukan sekadar penanda kontinuitas agenda tahunan, tetapi representasi komitmen institusi dalam merawat, mengembangkan, dan mendiseminasikan praktik tari sebagai bagian dari kehidupan sosial budaya yang dinamis,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurutnya, tari tidak hanya dipahami sebagai ekspresi keindahan, tetapi juga medium yang membangun relasi sosial, menciptakan makna, dan merefleksikan dinamika masyarakat.
Ia menambahkan, tema tahun ini menjadi simbol upaya menembus batas-batas antara tradisi dan modernitas. “Tanpa batas bukan hanya perluasan ruang geografis, tetapi juga dekonstruksi sekat-sekat simbolis antara tradisi dan modernitas,” katanya.

Sementara itu, Direktur Bina SDM Lembaga dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Syukur Asih Suprojo, menilai perjalanan 20 tahun HTD ISI Surakarta menjadi bukti nyata konsistensi dalam memajukan seni tari di Indonesia.
Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat. Ini menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga, mengembangkan, serta memajukan seni tari sebagai bagian penting kebudayaan kita,” ujarnya.

Ia menegaskan, di tengah dunia yang semakin cair batasnya, tari justru menemukan relevansi baru sebagai bahasa universal yang hidup dan terus bergerak.
Tari tidak lagi hanya hadir sebagai representasi budaya yang statis, tetapi sebagai bahasa hidup yang bergerak, merespons, dan menafsirkan ulang dunia di sekitarnya,” katanya.

Lebih lanjut, ia menyebut forum 24 Jam Menari menjadi ruang dialog antar generasi dan antarbudaya yang memperkuat seni sebagai pemersatu bangsa. (refPerhelatan ini pun tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan kreativitas antar komunitas seni dari berbagai daerah.

(Redaksi)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like

Hot News

Instagram
WhatsApp
Tiktok
error: Content is protected !!