MALANG, gugat.id —Di bawah rindangnya lereng Gunung Kawi, sebuah mata air alami bernama Sumber Manggis menarik perhatian masyarakat dan peziarah karena bukan hanya keindahan alamnya, tetapi juga kisah spiritual yang menempel di setiap tetes airnya. Lokasi wisata alam ini berada di Dusun Segelan, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.
Sumber Manggis dinamakan demikian karena mata airnya berada tepat di bawah pohon manggis yang menjulang di lokasi tersebut. Airnya tidak hanya berfungsi secara fisik sebagai sumber kehidupan, tetapi juga dianggap menyimpan pesan budaya dan sejarah. Beberapa cerita lokal bahkan menyebutkan sumber ini pernah menjadi lokasi meditasi para leluhur dan sarat akan ritual turun-temurun yang kini kian jarang dilakukan.
Sumber Manggis berdiri sebagai ruang hidup yang tidak hanya menyuplai air, tetapi juga menyimpan nilai keyakinan dan kearifan lokal. Hal itu tergambar dalam aktivitas, cerita, serta pandangan warga sekitar terhadap mata air tersebut.
Airnya mengalir tanpa henti, dikelilingi suasana tenang yang jauh dari kesan wisata massal. Lokasi ini tidak diperlakukan sebagai objek hiburan, melainkan ruang yang dihormati dan dijaga dengan sikap tertentu. Sumber Manggis menarik perhatian masyarakat dan peziarah karena bukan hanya keindahan alamnya, tetapi juga kisah spiritual didalamnya.
Warga sekitar meyakini Sumber Manggis memiliki nilai lebih dari sekadar fungsi alam. Tempat ini dipandang sebagai warisan yang tidak bisa dilepaskan dari cerita leluhur, sehingga setiap orang yang datang diharapkan menjaga sikap dan niat.
“Air di sini bukan hanya menyegarkan fisik. Banyak yang datang mencari keseimbangan batin, kesunyian, atau semacam tuntunan untuk mengikat kembali naluri spiritual mereka,” ujar Edi Sutrisno selaku juru kunci Sumber Manggis.

Keheningan, suara air, dan suasana sekitar menjadi elemen utama yang menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan tempat wisata pada umumnya. “Beberapa pengunjung datang bukan untuk rekreasi, melainkan mencari ketenangan, refleksi diri, atau sekadar menyatu dengan alam” Imbuh Edi.
Edi Sutrisno menambahkan Sumber Manggis dipandang lebih dari sekadar mata air biasa. Beningnya air yang tak henti mengalir dipercaya masyarakat setempat sebagai warisan leluhur yang menyimpan nilai spiritual tinggi dan energi alam yang damai. Kepercayaan ini menjadikan tempat tersebut lokasi ritual, tempat bertapa dan ziarah batin, terutama bagi warga sekitar dan pengunjung yang mencari ketenangan.
Tidak ada pembangunan berlebihan maupun eksploitasi. Akses dibiarkan sederhana, dengan tujuan agar Sumber Manggis tetap berada dalam koridor kesadaran bersama dan bukan konsumsi komersial. Hal itu merupakan upaya warga untuk tetap menjaga keseimbangan antara keterbukaan dan pelestarian
Sebagai Juru kunci Edi Sutrisno mempunyai pesan sederhana namun tegas, ‘Alam bukan untuk dikuasai, melainkan dihormati.’ Sumber Manggis menjadi contoh bagaimana sebuah mata air bisa bertahan bukan karena aturan tertulis, tetapi karena keyakinan kolektif warganya. Di tengah perubahan zaman dan meningkatnya tekanan terhadap ruang alam, Sumber Manggis tampil sebagai pengingat bahwa pelestarian bisa tumbuh dari kesadaran, bukan sekadar kebijakan.
(Red/ Panji)