Yogyakarta, gugat.id – Dalem Mangkubumen menjadi saksi hangatnya kebersamaan dalam acara Syawalan Trah HB VII yang digelar oleh Paguyuban Sapta Wandawa Trah NgDSDISKS Hamengku Buwono VII, Minggu (20/02). Tradisi yang berlangsung di kawasan bersejarah Kadipaten, Kraton Yogyakarta ini tak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga menegaskan sinergi antara nilai-nilai budaya Jawa dan ajaran Islam.
“Dalem Mangkubumen ini dibangun pada tahun 1874 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VI, dan kemudian digunakan oleh putranya yang Pangeran Adipati Anom hingga naik tahta dan bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Tempat ini bukan sekadar bangunan, tetapi saksi perjalanan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat kita,” tutur Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta dalam sambutannya.
Acara ini turut dihadiri tokoh-tokoh terkemuka seperti GBPH Prabukusumo, Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan Nitya Budaya, Irjen. Pol. (Purn.) Drs. R.M. Haka Astana Mantika Widya, S.H., mantan Kapolda DIY, serta para anggota dan kerabat trah HB VII.

Dalam pemaparannya, Prof. Edy menjelaskan bahwa meskipun Syawalan tidak memiliki tuntunan eksplisit dalam Al-Qur’an maupun syariat, tradisi ini tetap memiliki makna yang sangat kuat dalam konteks kebudayaan dan spiritualitas.
“Silaturahmi itu adalah kewajiban dalam Islam. Tradisi Syawalan menjadi sarana untuk memelihara kekerabatan dan mempererat ukhuwah,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya saling memaafkan sebagai bagian tak terpisahkan dari relasi kemanusiaan. “Sebesar apa pun dosa manusia, ampunan Allah SWT selalu lebih besar. Namun, dalam konteks hubungan antarsesama, dosa tidak selesai hanya dengan istighfar—ada keharusan untuk saling meminta dan memberi maaf. Inilah yang diikrarkan dalam Syawalan,” jelasnya.

Menurutnya, Syawalan—terutama yang dilakukan dalam lingkup keluarga besar—adalah manifestasi dari akulturasi antara nilai Islam dan budaya lokal. “Terlebih lagi jika dilakukan di tempat yang secara historis sangat berarti, seperti Dalem Mangkubumen yang pernah dihuni oleh Sri Sultan HB VII. Ini menjadi simbol pertemuan antara nilai leluhur dan kebijaksanaan spiritual,” tambahnya.
Mengakhiri pesan kebudayaan dan spiritualitasnya, Prof. Edy mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali: “Hal yang paling berat di dunia ini adalah menerima amanah. Maka jagalah amanah itu sesuai kemampuan dan jangan melakukan sesuatu di luar pengetahuan kita.”
Ia juga menyampaikan pesan menyentuh tentang kehidupan dan kematian. “Yang paling dekat dengan kita di dunia ini adalah kematian. Maka selama kita masih diberi waktu untuk berkumpul, berbuat baiklah kepada sesama. Dan yang paling indah di dunia ini adalah saling memaafkan—sebagaimana makna silaturahim: silah berarti hubungan, rahim adalah kasih sayang,” tutupnya.
Syawalan ini bukan hanya ajang berkumpul dan mengenang, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah arus zaman yang terus berubah, nilai silaturahmi dan penghormatan terhadap warisan budaya tetap menjadi fondasi yang kokoh bagi kebersamaan.
(Redaksi)