
Gunungkidul, gugat.id – Awal rencana pembangunan Tugu Tobong sudah menuai protes warga pada pertengahan tahun 2022 silam. Kini setelah berdiri, Tugu Tobong kembali menuai kritikan dikalangan warga Gunungkidul. Kritikan datang dari berbagai kalangan warga, entitas seniman, hingga anggota dewan. Lontaran kritik berfokus pada beberapa aspek.
Sebagian warga menyesalkan kualitas bangunan tugu, jalan aspal, dan jalan trotoar yang sudah rusak hanya dalam hitungan minggu.
Sebagian seniman menyoal perihal estetika Tugu Tobong yang dinilai tidak mumpuni, misalnya bentuk tugu yang tidak presisi atau terlihat miring, susunan bebatuan yang tidak rapi, komposisi relief tembaga yang kurang proporsional, dan lain-lain.
Sedangkan seorang anggota dewan mempertanyakan soal kurangnya pengawasan dan evaluasi pembangunan tugu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Mungkas M, Seniman lulusan ISI Surakarta Jurusan Seni Rupa asal Tanjungsari saat dikonfirmasi oleh awak media Berkaitan dengan pembangunan Tugu Tobong menjelaskan bahwa Tugu Tobong adalah icon pintu masuk kota Wonosari, jika merupakan karya seni perlu disandingkan dengan prinsip-prinsip seni rupa.
“Ada elemen penting yang perlu diperhatikan untuk membentuk komposisi dalam sebuah karya seni, agar karya tersebut akan menghasilkan nilai seni yang tinggi,” jelasnya.
Mungkas menambahkan, pada bangunan Tugu Tobong salah satu prinsip yang perlu dipahami adalah prinsip keseimbangan, dimana antar bagian saling mendukung.
Pada cerobong bagian atas cukup bagus karena terlihat seperti mahkota, tetapi pada bagian cerobong agak kurang presisi antara ornamen relief dengan diatasnya.
“Relief kurang tinggi sedikit, agar terlihat proporsional, keseimbangan pada karya seni tidak dapat di ukur tapi bisa dirasakan,” imbuhnya.
Menyoal isu aktual Tugu Tobong di Gunungkidul tersebut, Ketua Social Research Center (SOREC) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Dr. AB. Widyanta, MA, turut menyampaikan pandangannya. Saat diwawancarai oleh awak media Gugat.id (9/1/2023), menyatakan bahwa suka tidak suka, Tugu Tobong telah berdiri dan menjadi icon baru yang akan merepresentasikan babak sejarah Gunungkidul di masa depan.
Menurut pengajar Departemen Sosiologi yang sering disapa Abe ini, berdirinya Tugu Tobong itu merupakan manifestasi dari hasil konsensus-final di antara para pemangku kepentingan (stakeholder) di Kabupaten Gunungkidul, apakah itu pihak Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, para anggota dewan perwakilan rakyat, Dewan Kebudayaan Gunungkidul, dan stakeholder lainnya.
“Sebagai salah satu warga masyarakat yang lahir, tumbuh, dan tinggal di Gunungkidul, saya pribadi merasa belum pernah mendapatkan dan membaca hasil kajian naskah akademik yang menjadi dasar argumen atas perubahan icon utama dari Patung Pengendang menjadi Tugu Tobong. Karenanya, saya tidak tahu sama sekali apa dan bagaimana dasar landasan filosofis dan latar historis dari icon baru Tugu Tobong tersebut,” tegas Abe.
Lebih jauh Abe menyampaikan Pelajaran penting dari pembangunan Tugu Tobong ini, saya merasa para pihak yang berkompeten (Pemda Gunungkidul, DPRD Gunungkidul, dan Dewan Kebudayaan Gunungkidul) memiliki tugas “pekerjaan rumah” (PR) besar ke depan. PR besar yang harus mereka jawab dan wariskan kepada anak-anak, cucu-cucu, cicit-cicit, dan canggah-canggah generasi Gunungkidul masa depan adalah pertanyaan berikut ini.
“Apa dan bagaimana sejatinya latar historis, dasar-dasar filosofis, nilai-nilai spirit agung, dan nilai kepahlawanan atau epos besar yang hendak direpresentasikan dalam icon Tugu Tobong ini? Jika PR itu tidak terjawab, saya mengkhawatirkan anak, cucu, cicit, canggah generasi masa depan Gunungkidul akan laku ‘gugat‘ dan ‘tiwikrama‘,” pungkas Abe.
(red/V3)