Yogyakarta, gugat.id – Untuk pertama kalinya, Gedung Widya Nusantara yang merupakan religious center Universitas Widya Mataram (UWM) digunakan sebagai tempat pelaksanaan ibadah Sholat Jumat pada Jumat, 25 April 2025. Gedung yang terletak di Kampus Terpadu UWM Banyuraden ini sebelumnya telah diresmikan pada 22 Maret 2025 oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X bersama Ketua Pengurus Yayasan Mataram Yogyakarta, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD. Meski begitu, gedung ini baru difungsikan secara resmi untuk Sholat Jumat setelah sebelumnya digunakan untuk sholat lima waktu serta pengajian selama Ramadan.
Gedung yang dirancang sebagai pusat kegiatan keagamaan lintas agama ini mampu menampung hingga 150 jamaah untuk ibadah Sholat Jumat. Selain untuk umat Islam, bagian lain dari Gedung Widya Nusantara juga disiapkan sebagai ruang ibadah bagi umat Kristen Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha, mencerminkan nilai inklusivitas kampus berbasis budaya tersebut.
Pada Sholat Jumat perdana ini, Rektor UWM Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. bertindak langsung sebagai imam sekaligus khotib dengan menyampaikan khutbah bertema “Memakmurkan Masjid.” Dalam khutbahnya, ia mengingatkan pentingnya kontribusi terhadap pembangunan dan pemanfaatan tempat ibadah sebagai bagian dari amal jariyah.
“Siapa yang membangun masjid atau tempat ibadah karena Allah, maka Allah akan membangun rumah untuknya di surga,” tutur Prof. Edy mengutip hadist riwayat Bukhari dan Muslim.
Namun, ia menekankan bahwa keindahan fisik tempat ibadah tidak akan berarti jika tidak dimakmurkan dan dihidupkan dengan kegiatan keagamaan. “Oleh karena itu marilah kita makmurkan tempat ibadah ini bersama-sama dengan menjadikannya tempat aktivitas keagamaan sehari-hari. Bagaimana kita memelihara dengan baik, membersihkan, dan digunakan untuk sholat, untuk belajar, untuk tadarus, dan tempat kita meningkatkan ilmu yang bermanfaat,” ajaknya.
Lebih lanjut, Prof. Edy menegaskan bahwa fungsi masjid dan tempat ibadah tidak hanya terbatas pada hubungan vertikal dengan Tuhan (habluminallah), namun juga hubungan sosial antar sesama manusia (hablumminannas). Ia mengajak agar tempat ibadah juga dimanfaatkan untuk pendidikan, pembentukan karakter, dan penguatan etika serta adab.
“Lebih dari itu, juga bisa menjadi tempat pembentukan karakter, membangun akhlak, adab, dan etika. Ini sejalan dengan Kampus berbasis budaya yang menjadi pijakan UWM,” ungkapnya.
Menutup khutbahnya, Prof. Edy menyampaikan harapan agar Gedung Widya Nusantara menjadi pusat kegiatan keagamaan yang hidup dan aktif, tidak hanya untuk sivitas akademika UWM, namun juga masyarakat sekitar. “Bukan hanya untuk warga UWM, namun juga masyarakat luas,” pungkasnya.
(Redaksi)