Madiun, gugat.id – Puskesmas Dimong, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, kedapatan mengibarkan sang Dwi Warna Merah Putih, yang kondisinya lebih mirip sebagai kain perca (gombal). Kondisi robek-robek, terutama di sisi ujung kain bendera itu, sempat didokumentasikan tiga jurnalis digital lokal, pada Jumat (19/12/2025) pukul 11.45.
Sejumlah pegawai instansi kesehatan yang berseliweran di area itu, nampak tidak memperhatikan adanya kemeranaan bendera kehormatan bangsa tersebut. Seakan tidak ada yang salah di lingkungan tempat kerjanya, terkait perlakuan terhadap sang Merah Putih tersebut.
Warga masyarakat sekitar juga tidak mewaspadai jika terdapat pengibaran bendera Merah Putih yang tidak semestinya itu. Mereka tidak sejauh itu menduga, bahkan mengiranya kondisi bendera dalam keadaan baik-baik saja.
Kepala Puskesmas Dimong, drg. Niken S, yang akan dimintai konfirmasi terkait masalah tersebut, dikatakan salah seorang karyawan sedang keluar. Dia tidak bisa memastikan, apakah Niken kembali ke Puskesmas atau langsung pulang.
“Ibu sedang keluar. Dan saya tidak tahu, karena ini hari Jumat, apakah kembali ke Puskesmas atau langsung pulang,” kutip gugat.id sesuai pengakuan seorang karyawati berjilbab yang mengaku sebagai Kepala TU Puskesmas itu.
Saat dikonfirmasi dengan cara pesan singkat melalui selulernya, Niken juga tidak merespon. Chat ke nomor whatsapp Niken, pemberian kepala TU, yang dikirim pukul 12.03 hingga beberapa jam berikutnya tetap dalam kondisi centang satu.
Otoritas di atasnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, dr. Heri Setyana, yang dimintai tanggapan dalam pesan pendek, tidak memaparkan panjang lebar tentang permasalahan bendera pada UPT di bawahnya itu.
“Saya konfirmasi ke kepala Puskesmasnya,” sesingkat itu Heri menjawab.
Sementara tokoh militer setempat, Mayor TNI (Purn) Waluyo, menilai masalah nasionalisme bukan sekedar berkutat pada persoalan bendera Merah Putih. Dia melihatnya, rasa nasionalisme anak-anak muda saat ini, disadari atau tidak, sudah berangsur lenyap.
Dikatakannya, secara gerakan, perlu dilakukan pembinaan sebagai pendidikan karakter kepada generasi muda, termasuk aparatur negara. Hal itu mendesak dilakukan, jelasnya, mengingat semakin banyaknya instansi pemerintah yang tidak mengindahkan tata cara memperlakukan bendera nasional.
“Saya kira bukan hanya bab bendera saja. Hal lain soal kebangsaan dan nasionalisme, perlu dilakukan pembinaan lagi. Karena anak muda sekarang banyak yang kehilangan rasa nasionalisme. Nara sumber bisa dari Kodim atau Koramil. Bila perlu saya siap membantu,” tegas Waluyo.
(fin)