‎Pemkab Tegal Lanjutkan Pembenahan Pasar Tradisional, Tujuh Pasar Jadi Prioritas Tahun 2026‎ |

‎Pemkab Tegal Lanjutkan Pembenahan Pasar Tradisional, Tujuh Pasar Jadi Prioritas Tahun 2026‎

By

‎Tegal, Gugat.id – Pemerintah Kabupaten Tegal terus melanjutkan program peningkatan kualitas pasar tradisional sebagai upaya memperkuat sektor ekonomi kerakyatan. Setelah memperbaiki 16 pasar pada tahun 2025, tahun ini sebanyak tujuh pasar kembali menjadi sasaran pembenahan melalui anggaran daerah.

‎Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Tegal, Imam Rudy Kurnianto, mengatakan, pemerintah daerah berkomitmen melakukan penataan pasar secara bertahap agar aktivitas jual beli berlangsung lebih aman, nyaman, dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.

‎Pernyataan tersebut disampaikan Rudy saat wawancara publikasi capaian Program Prioritas Bupati Tegal di Gedung Slawi Pusat Oleh-Oleh dan Usaha Terpadu (SPOT) Lantai 2, Taman Rakyat Slawi.

‎Menurut Rudy, dari 25 pasar tradisional yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Tegal, seluruhnya akan dibenahi secara bertahap sesuai kondisi dan tingkat kerusakan masing-masing.

‎«”Pasar tradisional merupakan pusat perputaran ekonomi masyarakat. Karena itu, pemerintah terus melakukan intervensi melalui perbaikan sarana dan prasarana secara bertahap agar pedagang maupun pembeli merasa lebih nyaman saat beraktivitas di pasar,” ujar Rudy.»

‎Pada tahun anggaran 2025, Pemkab Tegal mengalokasikan dana sekitar Rp3,74 miliar untuk rehabilitasi fasilitas di 16 pasar tradisional. Perbaikan meliputi atap, talang air, drainase, jalan lingkungan, tempat pembuangan sampah, toilet, jaringan air bersih, hingga rehabilitasi los dan kios pedagang.

‎Enam belas pasar yang memperoleh pembenahan tersebut yakni Pasar Adiwerna, Banjaran, Cerih, Kedungsukun, Trayeman, Margasari, Pangkah, Bumijawa, Bojong, Jatilaba, Balapulang, Jatinegara, Balamoa, Mejasem, Pepedan, dan Suradadi.

‎Sementara pada tahun anggaran 2026, pemerintah menganggarkan sekitar Rp2,74 miliar untuk melanjutkan program tersebut dengan fokus pada tujuh pasar prioritas. Pasar Kesambi menjadi penerima alokasi terbesar, yakni sekitar Rp993 juta.

‎Dana tersebut akan digunakan untuk memperbaiki deretan kios bagian depan, mengganti atap, serta memperbarui instalasi listrik agar kondisi pasar semakin layak.

‎”Pasar Kesambi menjadi salah satu prioritas karena memang membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh. Dengan pembenahan ini kami berharap tampilan pasar menjadi lebih baik dan aktivitas perdagangan semakin nyaman,” jelas Rudy.

‎Selain Pasar Kesambi, pembenahan juga dilakukan di Pasar Trayeman melalui pengaspalan jalan lingkungan, pembangunan fasilitas pendukung di Pasar Bojong, serta perbaikan sarana di Pasar Banjaran, Margasari, Balapulang, dan Kupu sesuai kebutuhan masing-masing.

‎Rudy menjelaskan, penentuan prioritas perbaikan didasarkan pada tingkat kerusakan fasilitas. Pemerintah lebih dahulu menangani kebutuhan mendasar seperti atap bocor, lantai rusak, drainase, dan akses jalan sebelum memperbaiki fasilitas penunjang lainnya.

‎”Kalau atap masih bocor atau lantainya masih rusak tentu itu yang kami dahulukan. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, baru kami lanjutkan pembenahan fasilitas lain seperti TPS, MCK maupun sarana pendukung lainnya,” katanya.

‎Untuk tahun 2027, Diskop UKM dan Perdagangan telah mengusulkan pembenahan terhadap 13 pasar dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp7,8 miliar. Pasar Balamoa menjadi proyek terbesar dengan rencana anggaran mencapai Rp3 miliar untuk pembangunan ulang kios, perbaikan atap, drainase, dan fasilitas pendukung lainnya.

‎‎”Kalau anggaran dua ratus atau tiga ratus juta itu sifatnya lebih pada memperbaiki kerusakan yang ada. Tetapi kalau sampai tiga miliar seperti rencana di Pasar Balamoa, harapannya sudah bisa mengubah wajah pasar sehingga lebih nyaman bagi pedagang maupun masyarakat,” ungkapnya.

‎Selain Balamoa, pemerintah juga merencanakan pembenahan di Pasar Trayeman, Pangkah, Adiwerna, Simpar, Jatinegara, Cerih, Kedungsukun, Pesayangan, Suradadi, Banjaran, dan Banjaranyar. Pemkab juga menyiapkan dana cadangan sekitar Rp2 miliar untuk mengantisipasi rehabilitasi akibat bencana maupun kerusakan yang bersifat mendesak.

‎Di sisi lain, Pemkab Tegal masih mengupayakan dukungan anggaran dari pemerintah pusat untuk merevitalisasi Pasar Adiwerna melalui APBN. Jika terealisasi, pembangunan akan dilakukan secara menyeluruh sehingga pasar memiliki fasilitas yang lebih modern.
‎Rudy juga memastikan bahwa peningkatan kualitas pasar tidak akan diikuti dengan kenaikan tarif retribusi. Besaran retribusi tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku.

‎”Yang kami bangun adalah kualitas pelayanannya. Harapannya ketika pedagang merasakan manfaat dari pasar yang lebih nyaman dan tertata, kesadaran untuk membayar retribusi juga akan meningkat. Jadi bukan tarifnya yang dinaikkan, tetapi kualitas layanannya yang terus kami tingkatkan,” tegasnya.

‎Saat ini target penerimaan retribusi dari 25 pasar tradisional mencapai sekitar Rp8,5 miliar setiap tahun. Pemerintah optimistis pembenahan pasar akan meningkatkan kenyamanan pedagang dan masyarakat sekaligus mendorong optimalisasi pendapatan daerah.

‎Ke depan, layanan kebersihan pasar juga akan diperkuat dengan penambahan petugas agar lingkungan pasar semakin bersih dan sehat.

‎”Kami ingin pasar tradisional di Kabupaten Tegal menjadi tempat yang bersih, aman, nyaman, dan mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan. Ketika pedagang nyaman berjualan dan masyarakat nyaman berbelanja, maka aktivitas ekonomi daerah juga akan semakin tumbuh,” pungkas Rudy.

‎Pewarta : R. Latief

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like

Hot News

Instagram
WhatsApp
Tiktok
error: Content is protected !!