Tegal, Gugat.id – Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal menggelar public lecture bertajuk “People at the Center: Reimagining the Future of Primary Health Care in Indonesia”, Kamis (13/8/2026).
Kuliah umum tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Dekan Fakultas Psikologi dan Pendidikan UHN Tegal sekaligus CEO dan Founder CISDI, Diah S. Saminarsih, serta Dr. Phung N. Pham, PhD, MPH, dari Harvard Medical School.
Wakil Rektor I UHN Tegal, Gunawan Adib Achmadi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang penting untuk membahas arah layanan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dalam sistem kesehatan.
Menurutnya, terdapat tiga gagasan penting dalam tema kuliah umum tersebut, yakni menempatkan manusia sebagai pusat layanan kesehatan, membayangkan kembali masa depan pelayanan kesehatan di tengah perkembangan teknologi, serta memperkuat layanan kesehatan primer.
“Layanan kesehatan itu ingin menempatkan manusia sebagai subjek. Karena itu, dalam pelayanan harus mendengar, memahami, dan melibatkan masyarakat,” ujar Gunawan.
Ia menilai perkembangan teknologi kesehatan harus tetap diarahkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kemajuan teknologi, kata dia, tidak boleh membuat layanan kesehatan justru semakin jauh dari masyarakat.

Sementara itu, Diah S. Saminarsih memaparkan perjalanan layanan kesehatan primer, baik secara global maupun di Indonesia. Ia menjelaskan, Primary Health Care (PHC) tidak sebatas pelayanan klinis atau pengobatan. PHC merupakan sebuah ekosistem yang mempertemukan masyarakat, fasilitas kesehatan, dan pemerintah.
Di Indonesia, ekosistem tersebut mencakup fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), seperti puskesmas dan klinik, hingga berbagai layanan berbasis masyarakat seperti pustu dan posyandu.
Diah juga mengingatkan bahwa penguatan layanan kesehatan primer menjadi penting karena masyarakat tidak semestinya baru mendapatkan perhatian ketika sudah jatuh sakit. “Primary healthcare itu dimulai sebelum orang sakit,” ujarnya.
Menurut Diah, layanan primer harus mampu mendorong edukasi kesehatan, pencegahan penyakit, hingga deteksi dini dengan melibatkan masyarakat.
Dalam paparannya, Diah juga menyinggung perjalanan panjang layanan kesehatan primer di Indonesia. Menurutnya, gagasan mengenai layanan kesehatan primer telah berkembang bahkan sebelum Indonesia merdeka dan kemudian diperkuat dengan lahirnya puskesmas pada 1968.Ia menyebut Indonesia juga memiliki pengalaman inovasi melalui program Pencerah Nusantara, yang kemudian diadopsi menjadi program nasional.
Sementara itu, Dr. Phung N. Pham dari Harvard Medical School menyoroti persoalan lain yang kerap luput dalam perkembangan layanan kesehatan, yakni kesenjangan antara inovasi dan akses masyarakat.
Menurutnya, dunia saat ini memiliki teknologi kesehatan yang semakin maju. Namun, teknologi tersebut belum otomatis dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
“Ini bukan masalah teknologi. Ini adalah masalah difusi,” kata Phung dalam paparannya.
Ia mencontohkan layanan konsultasi kesehatan secara virtual yang memungkinkan seseorang memperoleh layanan medis tanpa harus datang langsung ke fasilitas kesehatan. Namun, menurutnya, akses terhadap teknologi tersebut tetap bergantung pada sumber daya yang dimiliki masyarakat.
Phung juga menyinggung pengalaman selama pandemi COVID-19. Perkembangan teknologi vaksin yang sangat cepat tidak serta-merta membuat seluruh masyarakat mau menerimanya.Persoalan kepercayaan, informasi yang keliru, hingga faktor sosial dan politik turut memengaruhi penerimaan masyarakat.
Karena itu, menurut Phung, inovasi kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan ilmu kedokteran dan teknologi. Penelitian sosial, komunikasi, serta pemahaman terhadap perilaku masyarakat juga diperlukan agar sebuah inovasi benar-benar dapat diterapkan.
Ia menilai konsep Primary Healthcare Impact Lab yang dikembangkan UHN bersama mitranya dapat menjadi ruang untuk menghubungkan penelitian, inovasi, dan kebutuhan masyarakat.
Phung juga mendorong mahasiswa UHN agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menjadi pencipta solusi.Ia mengajak mahasiswa melihat persoalan yang mereka temui sehari-hari sebagai bahan penelitian, kemudian mengujinya secara sistematis hingga menghasilkan inovasi yang dapat memberikan dampak bagi masyarakat.
“Research is a systematic approach of collecting data, analyzing it, and translating it to knowledge,” jelasnya.
Phung turut menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang menurutnya dapat menjadi alat penting bagi generasi muda dalam mempercepat penelitian dan inovasi. Namun, ia mengingatkan bahwa AI tidak menggantikan peran manusia.
Menurutnya, mahasiswa dan peneliti tetap harus memahami proses, mengawasi penggunaan teknologi, serta memadukannya dengan pengalaman dan kebutuhan nyata masyarakat.
Kuliah umum tersebut kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang membahas berbagai persoalan layanan kesehatan primer, termasuk perkembangan peran posyandu, inovasi berbasis masyarakat, hingga peluang mahasiswa mengembangkan inovasi yang memiliki dampak sosial sekaligus nilai ekonomi.
Melalui kegiatan tersebut, UHN Tegal mendorong lahirnya perspektif baru bahwa masa depan layanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan inovasi yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Pewarta : Iqbal R