Malaka, Gugat.id – Tanah persawahan mulai retak, tanaman padi perlahan menguning, sementara pasokan air semakin sulit didapat. Kondisi tersebut kini menghantui para petani di Desa Raimataus, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kemarau yang telah berlangsung hampir satu bulan membuat puluhan hektare sawah milik warga mengalami kekeringan. Para petani pun cemas tanaman padi yang telah berusia sekitar 1,5 hingga 2 bulan tidak mampu bertahan hingga masa panen.
Salah seorang warga Desa Raimataus, Yohanes Hane, mengatakan kondisi persawahan saat ini cukup memprihatinkan. Menurutnya, sekitar 90 persen lahan persawahan berpotensi gagal panen apabila tidak segera mendapatkan pasokan air.
“Sampai saat ini sawah-sawah mengalami kekeringan. Bisa dikatakan sekitar 90 persen terancam gagal panen,” kata Yohanes, Sabtu (29/8/2026).
Ia menjelaskan, tanaman padi yang saat ini berusia sekitar 1,5 hingga 2 bulan sangat membutuhkan ketersediaan air. Jika kekeringan terus berlangsung, tanaman dikhawatirkan mati sebelum memasuki masa panen.Karena itu, Yohanes berharap pemerintah segera memberikan perhatian dan membantu petani menghadapi kondisi tersebut.
“Harapan kami agar pemerintah kiranya dapat membantu, paling tidak untuk sumur bor dan mesin pompa. Satu desa paling tidak kebutuhannya minimal lima sumur bor,” ujarnya.

Menurut Yohanes, keberadaan sumur bor dan mesin pompa bukan hanya untuk mengatasi kekeringan saat ini, tetapi juga dapat menjadi solusi jangka panjang bagi masyarakat setiap musim kemarau. Dengan adanya sumber air yang memadai, kata dia, petani dapat mengoptimalkan lahan pertanian sehingga memungkinkan untuk meningkatkan intensitas tanam dan panen hingga dua atau tiga kali dalam setahun.
Sementara itu, media ini telah berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak terkait, dalam hal ini Dinas Pertanian Kabupaten Malaka.Laurens Bere mengatakan pola tanam harus disesuaikan dengan kondisi ketersediaan air dan sistem irigasi yang dimiliki petani.
“Kalau IP hanya 100, jangan dipaksa IP menjadi 200. Sekarang awal musim kemarau,” kata Laurens.
IP 100 atau Indeks Pertanaman 100 berarti lahan hanya ditanami dan dipanen satu kali dalam setahun. Sedangkan IP 200 berarti lahan ditanami dan dipanen dua kali dalam setahun.Laurens mengaku sebelumnya telah mengingatkan petani agar tidak memaksakan penanaman padi pada musim tanam kedua (MT2) apabila sistem irigasi belum permanen dan ketersediaan air belum mencukupi.
“Saya sudah pernah memperingatkan, bila irigasinya belum permanen, jangan coba memaksa menanam padi di MT2. Beralih komoditas padi ke jagung atau ahuklean,” jelasnya.
Kondisi kekeringan yang terjadi saat ini menjadi tantangan bagi petani di Desa Raimataus. Tanaman padi yang telah ditanam membutuhkan air yang cukup untuk bertahan hingga masa panen, sementara petani harus menghadapi musim kemarau yang membuat sumber air semakin terbatas.
Para petani berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret, khususnya dalam penyediaan sumur bor dan mesin pompa, sehingga tanaman yang sudah ditanam dapat diselamatkan dan produktivitas pertanian masyarakat tetap terjaga.
(D’jan)