Luncurkan Inovasi Paper Bag Modular, Tim Dosen DKV ISI Surakarta Perkuat Brand Komunitas Kampoeng Batik Laweyan |

Luncurkan Inovasi Paper Bag Modular, Tim Dosen DKV ISI Surakarta Perkuat Brand Komunitas Kampoeng Batik Laweyan

By

Surakarta, Gugat.id -Desain kemasan yang berfungsi maksimal sebagai branding sekaligus bermanfaat bagi komunitas menjadi solusi yang
diangkat oleh dosen DKV FSRD ISI Surakarta melalui kegiatan pengabdian pada masyarakat. Proses perancangan desain kemasan modular ini memakan waktu tiga bulan, mencakup tahap
observasi dan pengumpulan data di bulan Juli, perancangan serta pembuatan purwarupa di bulan Agustus, hingga uji coba dan produksi akhir di bulan September.

Tim PPM DKV ISI Surakarta dengan pendekatan branding berbasis kolektivitas dan isu keberlanjutan ini tidak hanya memperkaya keilmuan DKV, tetapi juga menjadikan Kampoeng Batik Laweyan sebagai laboratorium branding komunitas yang adaptif dan terus hidup bagi generasi mendatang.

Tim Pengabdian Masyarakat dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta resmi menyerahkan inovasi kemasan paper bag bersistem modular kepada Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL), Selasa (15/9).

Penyerahan ini menandai puncak program pengabdian yang telah berlangsung sejak 2 Juli 2026 sampai penyerahan desain kemasan guna memperkuat strategi rebranding kolektif kawasan tersebut. Program pengabdian yang didanai melalui DIPA ISI Surakarta Tahun 2026 ini diketuai oleh Ipung Kurniawan Yunianto yang juga melibatkan M. Harun Rosyid Ridlo selaku anggota serta sejumlah mahasiswa.

Ipung Kurniawan Yunianto menjelaskan inovasi ini dirancang untuk menjawab tantangan penjenamaan (branding) yang rumit di Laweyan. Paper bag ini harus mampu membawa nama FPKBL sebagai komunitas, mengangkat “Batik Heritage Laweyan (BLH)” sebagai lini produk kolektif yang berkelanjutan, sekaligus tetap memberi ruang bagi identitas masing-masing pelaku usaha independen tanpa menimbulkan resistensi.

Inovasi sistem modular ini kami wujudkan dengan memanfaatkan limbah kain batik sebagai elemen fungsional, yaitu saku seukuran kartu nama pada paper bag. Saku ini memungkinkan setiap pelaku usaha menyisipkan identitas mereka sendiri, sementara material utama kemasan menggunakan kertas degradable yang sejalan dengan prinsip produk BLH yang berkelanjutan, seperti penggunaan pewarna alam dan malam dari limbah kelapa sawit,” jelas Ipung.

Acara penyerahan simbolis kepada pengelola dan perwakilan masyarakat ini turut dihadiri tokoh budaya setempat, penggiat sejarah, dan warga Laweyan. Langkah ini diorientasikan untuk mendukung kegiatan edukasi serta wisata sejarah di kawasan tersebut.

Ketua FPKBL, Alpha Febela Priyatmono menyambut positif terobosan dari ISI Surakarta ini. Kehadiran paper bag modular dinilai menjadi sarana taktis pendukung branding kawasan yang menegaskan komitmen FPKBL terhadap ekonomi sirkular.

Melalui kegiatan ini, paper bag modular diserahkan langsung kepada pihak pengelola dan perwakilan masyarakat sebagai sarana penunjang branding kawasan heritage yang adaptif terhadap isu keberlanjutan, baik dari aspek komunitas, lingkungan, maupun sektor komersial,” ungkap Alpha.

Sementara itu, Lurah Laweyan, Kasriyati menegaskan harapannya agar program ini tidak sekadar berhenti sebagai proyek pengabdian dan produksi media penguat branding kawasan semata, melainkan terus berlanjut pemanfaatannya oleh komunitas.

(Red)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like

Hot News

Instagram
WhatsApp
Tiktok
error: Content is protected !!