Yogyakarta, Gugat.id – Loyalitas konsumen terhadap kuliner tradisional Sekaten seperti sego gurih dan endhog abang menghadapi tantangan akibat pergeseran minat antargenerasi. Generasi muda, khususnya Generasi Z, dinilai belum memiliki keterikatan yang kuat terhadap kuliner dan tradisi Sekaten sebagaimana generasi sebelumnya.
Hal tersebut menjadi perhatian Dosen Program Studi Akuntansi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Nisfatul Izzah, S.E., M.A., dalam kajiannya mengenai akuntansi UMKM dan Akuntansi Budaya.
Menurut Izzah, Sekaten selama ini tidak hanya menjadi perayaan tahunan bagi masyarakat Yogyakarta, tetapi juga menghadirkan hubungan emosional antara konsumen dan pedagang tradisional. Sejumlah pelanggan bahkan secara rutin datang setiap tahun untuk membeli kuliner dari pedagang yang sama.
“Bagi pelanggan lama, ada memori masa kecil yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Menemui pedagang langganan dan melarisi dagangan mereka setahun sekali sudah menjadi kebiasaan. Pola hubungan ini menciptakan loyalitas yang membuat pedagang memiliki pasar tersendiri,” ujarnya pada Kamis (27/8).
Namun, kondisi tersebut mulai menghadapi tantangan seiring berkurangnya minat generasi muda terhadap kuliner tradisional. Izzah menilai perbedaan selera dan minimnya daya tarik yang sesuai dengan preferensi Generasi Z dapat berdampak terhadap keberlanjutan usaha para pedagang Sekaten.
Dalam perspektif Akuntansi Budaya, menurutnya, loyalitas pelanggan merupakan aset tidak berwujud yang memiliki nilai penting bagi keberlangsungan usaha tradisional. Akan tetapi, aset tersebut dapat mengalami penyusutan apabila tidak terjadi regenerasi konsumen.
“Generasi Z kurang berminat karena makanan tradisional ini dianggap memiliki rasa yang asing bagi mereka. Selain itu, diperlukan pemantik atau daya tarik yang mampu membuat generasi muda penasaran untuk datang dan mengenal kuliner Sekaten,” jelasnya.
Ia menilai para pedagang perlu melakukan inovasi dalam penyajian dan promosi tanpa menghilangkan cita rasa serta karakter asli produk. Di sisi lain, kualitas makanan harus tetap dijaga karena kepercayaan konsumen menjadi salah satu modal utama bagi keberlangsungan usaha yang hanya hadir dalam momentum tertentu setiap tahun.
Selain inovasi, pengenalan nilai sejarah dan filosofi di balik kuliner Sekaten juga perlu dikemas melalui pendekatan komunikasi yang lebih relevan bagi generasi muda.
“Jika tidak ada jembatan budaya yang mampu memantik rasa penasaran Generasi Z, kita berpotensi kehilangan aset ekonomi dan pariwisata yang berharga dalam beberapa dekade mendatang. Pelestarian Sekaten tidak bisa hanya mengandalkan romansa masa lalu, tetapi harus dikelola dengan strategi yang adaptif,” ujar Izzah.
Ia menambahkan, pemerintah dan pihak terkait juga perlu memberikan perhatian terhadap upaya pengenalan kuliner tradisional kepada generasi muda, termasuk melalui pendidikan dan muatan lokal yang mengenalkan nilai budaya serta kekayaan kuliner Nusantara.
Sekaten merupakan rangkaian kegiatan tahunan di Yogyakarta untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Selain memiliki nilai religius dan budaya, perayaan ini juga menjadi ruang tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat melalui keberadaan pedagang dan kuliner tradisional, termasuk sego gurih dan endhog abang yang telah menjadi bagian dari pengalaman masyarakat dalam merayakan Sekaten.
(Red)