Yogyakarta ,gugat.id – Ribuan massa aksi yang bertahan sejak siang di halaman Mapolda DIY akhirnya mereda ketegangannya saat Sri Sultan Hamengku Buwono X keluar menemui mereka, Jumat (29/08) Kehadiran Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta itu diiringi gending Raja Manggala, menghadirkan suasana teduh di tengah demonstrasi.
Sultan keluar dari gedung Polda didampingi putri-putrinya, GKR Condrokirono dan GKR Hayu, serta KPH Yudanegara. Kapolda DIY Irjen Pol Anggoro Sukartono juga turut mendampingi. Layaknya tradisi keraton saat menerima tamu agung, langkah Sultan disambut takzim oleh massa yang sejak siang bersuara keras.

“Yang Anda lakukan adalah bagian dari tumbuhnya demokrasi di Yogyakarta. Saya menghargai itu, dan saya sepakat. Tapi demokratisasi harus dilakukan dengan baik, untuk mendidik kita semua, termasuk saya,” ujar Sultan di hadapan ribuan massa.
Ia juga menyampaikan duka cita atas meninggalnya Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas setelah dilindas kendaraan taktis Brimob di Jakarta. “Saya sangat prihatin dan berduka cita. Mengapa selalu ada korban dalam membangun demokrasi? Di Yogya, kita bisa berdialog, karena Yogya adalah tempat menghargai hak warga,” katanya.
Sultan mengajak massa menyampaikan aspirasi dengan cara tertib. Ia bahkan menawarkan diri menjadi penyalur pesan ke pemerintah pusat. “Kalau tenaga dan pikiran saya dibutuhkan, silakan. Tapi harus ada surat resmi sebagai dasar saya berbicara dengan pemerintah pusat. Cukup dua sampai tiga orang saja yang menyerahkan,” jelasnya.
Menutup pertemuan dini hari itu, Sultan meminta massa membubarkan diri dengan damai. “Mari kita sama-sama pulang dan tidur,” ucapnya.
Suasana di halaman Mapolda pun berangsur tenang. Gending Raja Manggala yang mengiringi langkah Sultan malam itu menjadi simbol kehadiran pemimpin yang meneduhkan rakyatnya.
( Redaksi)