Brebes, Gugat.id – Di tengah menguatnya berbagai tantangan kebangsaan, peringatan 81 Tahun Pancasila menjadi momentum refleksi bagi para tokoh nasional, akademisi, dan generasi muda untuk kembali meneguhkan nilai-nilai dasar bangsa. Pesan yang mengemuka dalam Sarasehan 81 Tahun Pancasila di Padepokan Kalisoga Slatri, Kabupaten Brebes, Senin (1/6/2026), menegaskan satu hal penting: masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh keteladanan para pemimpinnya.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Universitas Harkat Negeri tersebut menghadirkan sejumlah tokoh nasional, akademisi, serta mahasiswa dari berbagai daerah. Forum ini menjadi ruang dialog terbuka untuk membahas relevansi Pancasila di tengah perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang terus berkembang.
Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, yang bertindak sebagai moderator, menegaskan bahwa sarasehan sengaja dirancang untuk mempertemukan berbagai sudut pandang mengenai makna dan implementasi Pancasila. Menurutnya, keberagaman perspektif merupakan kekuatan yang dapat memperkaya pemahaman masyarakat terhadap ideologi bangsa.
Dalam sambutannya, Sudirman Said menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi bangsa maju karena telah memiliki fondasi ideologis yang kokoh. Namun, potensi tersebut hanya akan terwujud apabila para penyelenggara negara mampu menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam kebijakan, perilaku, dan tindakan nyata.

“Keteladanan pemimpin menjadi faktor yang sangat menentukan. Ketika nilai-nilai Pancasila hadir dalam sikap dan keputusan para pemegang amanah, maka keadilan, integritas, dan keberpihakan kepada rakyat akan lebih mudah diwujudkan,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pengamalan Pancasila saat ini menghadapi tantangan serius. Gejala menurunnya penghayatan terhadap nilai-nilai kebangsaan dinilai terlihat di berbagai sektor kehidupan, mulai dari praktik pemerintahan hingga relasi sosial masyarakat. Kondisi tersebut, menurutnya, harus dijawab melalui ruang-ruang diskusi yang mampu melahirkan gagasan segar sekaligus memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga ruh Pancasila.
Sarasehan menghadirkan sejumlah narasumber lintas latar belakang, antara lain Leo Kleden, Otto Gusti N. M., Taufiqulloh, Roby Setiadi, Sutarmin, Abdul Fikri Faqih, Taufiqurrohman Syahuri, dan Djoko Gunawan. Beragam pandangan yang disampaikan memperlihatkan bahwa Pancasila tetap relevan sebagai fondasi negara sekaligus kompas moral dalam kehidupan berbangsa.
Usai kegiatan, Sudirman Said mengapresiasi dinamika diskusi yang berlangsung. Ia secara khusus menyoroti pandangan Romo Leo Kleden yang menyebut banyak pemikir dunia memandang Pancasila sebagai salah satu ideologi terbaik yang pernah lahir karena mampu memadukan nilai kemanusiaan, keadilan sosial, demokrasi, dan persatuan dalam satu kesatuan utuh.
Menurutnya, para pembicara memiliki kesamaan pandangan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol atau slogan. Pancasila harus terus diperjuangkan agar hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari, terutama oleh mereka yang memegang mandat kepemimpinan.
“Harapan saya, para penyelenggara negara, pengurus bangsa, dan pemimpin di semua level mampu menunjukkan perilaku, ucapan, dan tindakan yang selaras dengan prinsip-prinsip Pancasila. Jika itu terwujud, Indonesia akan memiliki kekuatan besar untuk menghadapi berbagai tantangan zaman,” tegasnya.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan zaman, pesan yang mengemuka dari Brebes ini menjadi pengingat bahwa Pancasila akan tetap kokoh sebagai bintang penuntun bangsa, selama nilai-nilainya hidup dalam keteladanan para pemimpin dan perilaku seluruh anak bangsa.
Pewarta: Iqbal R