Difabel Berdaya dan Berkarya, Mendobrak Batas Ekosistem Seni Budaya Melalui |

Difabel Berdaya dan Berkarya, Mendobrak Batas Ekosistem Seni Budaya Melalui

By

YOGYAKARTA, Gugat.id -Isu aksesibilitas dan representasi budaya sejauh ini masih sering luput dari perhatian utama praktik seni di Indonesia. Padahal, seni memiliki kekuatan besar untuk meruntuhkan stigma negatif dan membangun empati di masyarakat. Rantara hadir sebagai ruang belajar bersama sekaligus implementasi nyata atas hak-hak budaya penyandang disabilitas yang dilindungi oleh hukum.

Panitia Pelaksana resmi menggelar kembagi rangkaian kegiatan “Rantara: Difabel Berdaya dan Berkarya” di Kota Yogyakarta. Kegiatan ini diinisiasi sebagai aksi nyata untuk mendobrak keterbatasan akses yang selama ini dihadapi oleh para seniman difabel dalam menjangkau ekosistem seni profesional yang berkelanjutan. Rangkaian kegiatan digelar mulai tanggal 14 Agustus ditandai dengan Pembukaan Pameran ditutup tanggal 20 Agustus 2026 di Jogja Gallery dan sejumlah titik lain.

Meskipun ruang kreatif saat ini dinilai semakin terbuka, potensi luar biasa dari para seniman difabel sering kali terhenti sebagai simbol semata akibat minimnya dukungan, eksposur, dan ruang aktualisasi. Melalui program Rantara, panitia berkomitmen menyediakan jalur konkret yang menghubungkan langsung karya seniman difabel dengan dunia seni arus utama dan industri kreatif.

Kota Yogyakarta dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena posisinya yang strategis sebagai ruang hidup yang progresif, toleran, dan suportif bagi pertumbuhan inisiatif seni inklusif.
Rangkaian Kegiatan & Luaran Strategis Rantara
Mengusung tema kesetaraan hak budaya sesuai dengan Convention on the Rights of Persons with Disabilities(CRPD) PBB dan UU Pemajuan Kebudayaan No. 5 Tahun 2017, berikut adalah komposisi kegiatan serta luaran yang dilaksanakan dalam Program Rantara:

  1. Pameran Karya Seni Disabilitas: Berfungsi sebagai ruang ekspresi dan afirmasi identitas kultural para seniman disabilitas. Karya yang ditampilkan mencerminkan keberagaman pengalaman hidup sekaligus membuka ruang diskusi mengenai tubuh, akses, dan keberdayaan. Pameran ini berkomitmen menghadirkan ruang pajang yang aksesibel baik secara fisik, visual, maupun konseptual.
  2. Workshop Seni Inklusif: Sarana pembelajaran berbasis partisipatif dengan metode seni yang adaptif. Workshop ini melibatkan peserta disabilitas, seniman umum, dan pelajar untuk mengeksplorasi teknik serta pendekatan seni berbasis keberagaman kemampuan.
  3. Live Painting Kolaboratif: Menghadirkan interaksi langsung di ruang publik antara seniman disabilitas dan non-disabilitas, yang sekaligus berfungsi sebagai ruang advokasi visual nyata dan simbol inklusi bagi masyarakat luas.
  4. Forum Group Discussion (FGD): Mengangkat fokus refleksi dan perumusan gagasan bersama dengan tema “Transisi dari Dunia Pendidikan ke Dunia Usaha”. FGD ini melibatkan perwakilan komunitas, akademisi, pemerintah, dan pengelola seni budaya guna menyusun rekomendasi strategis jangka panjang.
  5. Pembuatan Instalasi Publik di Titik 0 Km Yogyakarta: Proyek interaktif yang dikerjakan oleh seniman profesional untuk menghasilkan karya seni multi-sensori yang dapat diakses oleh seluruh tipe difabel. Berbentuk patung jari kelingking berwarna cerah sebagai lambang inklusi global. Karya ini dirancang menjadi media advokasi kesetaraan nyata bagi masyarakat luas.
    Program Rantara ini menegaskan bahwa seni adalah bagian dari hak asasi manusia yang mendasar. Lewat kegiatan ini, panitia ingin menunjukkan bahwa di balik keterbatasan fisik, sensorik, intelektual, maupun psiko-sosial, terdapat perspektif yang kaya dan dapat diunggulkan. Panitia juga berkomitmen menghadirkan ruang pameran yang benar-benar aksesibel, baik secara fisik, visual, maupun konseptual sehingga penyandang disabilitas tidak lagi diposisikan sebagai objek penonton, melainkan sebagai subjek yang merdeka dalam berkarya.
    Penyelenggaran acara ini didukung penuh oleh Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaa RI dengan Kategori Pendayagunaan Ruang Publik. Kristina Novi Susanti sebagai Ketua Pelaksana mengatakan bahwa Rantara merupakan acara yang lahir dari Proyek Kemanusiaan yang dilakukan oleh tim Dosen dan Mahasiswa ISI Surakarta pada tahun lalu (2025) melalui Kerjasama dengan beberapa pihak, sepeti komunitas disabilitas, lembaga pendidikan disabilitas formal dan non formal, pemerintah dan swasta.
    Rantara kedua tahun 2026 kali ini hadir kembali sebagai wujud komitmen tim untuk menciptakan ruang seni secara konsisten. Melalui pemanfaatan jejaring dan relasi serta pengoptimalan media sosial, Rantara berusaha untuk menjangkau peserta dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Tangerang, Solo, Semarang, Bojonegoro hingga Palembang. Peserta juga diberikan pengalaman dengan mewujudkan pameran kolaborasi bersama seniman profesional di salah satu galeri seni bergengsi di Yogyakarta, yaitu Jogja Galery. Tidak hanya pameran karya lukis 2 dimensi, Rantara juga menghadirkan Si Jalira (Simfoni Warna Menjalin Cerita dalam Karya), sebuah karya instlasi yang dikerjakan bersama-sama dengan seniman Solo untuk dipasang di titik 0 Km. Karya Seni Intalasi ini digunakan sebagai simbol dengan arti “salam inklusi” dan disertai dengan keterangan informasi tentang maksud dan tujuan dari karya tersebut. Si Jalira hadir bukan hanya sebagai sebuah karya seni dengan nilai estetis, melainkan juga berguna sebagai media komunikasi publik, atas wacana tentang event tertentu dan edukasi hingga advokasi untuk mewujudkan budaya yang lebih inklusif. Yulianto sebagai curator acara ini mengatakan bahwa Si jalira Hadir sebagai instalasi jari kelingking yang menegaskan bahwa seni adalah Bahasa yang melampaui batas biologis dan sosiologi yang meruntuhkan stigma sekaligus membangun komitmen untuk mewjudkan budaya yang inklusif.
    CP: 087798021073 (Kristin)

(Red)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like

Hot News

Instagram
WhatsApp
Tiktok
error: Content is protected !!