GUGAT.ID (Yogyakarta) – Kotagede sebagai kota tua di Yogyakarta memiliki peninggalan cagar budaya yang sangat bernilai tinggi. Peninggalan sejarah itu bersinggungan dengan serangkaian tradisi besar di Nusantara itu, dari Kerajaan Majapahit, Demak, Pajang, dan Kesultanan Mataram, harus terawat dan menjadi nilai tambah bagi masyarakat dari segi nilai sosial, ekonomi, dan budaya.
Budayawan asli Kotagede, Drs. Achmad Charris Zubair, M.A menyatakan, Kotagede dengan keindahan cagar budaya dan kotanya pernah dinobatkan sebagai terindah di Asia oleh Cable News Network (CNN) Internasional.
Kota ini disejajarkan dengan Hoi An (Vietnam), Yufuin (Jepang), George Town (Malaysia), City of Vigan (Filipina), Luang Prabang (Laos), Kampot (Kamboja), Galle (Sri Lanka), Zhouzhuang (China), Mawlynnong, (India), Ghandruk (Nepal), Sai Kung (Hong Kong), dan Phuket Town (Thailand).
Dalam perbincangan dengan host Podcast Kutunggu di Pojok Ngasem Universitas Widya Mataram (UWM), Puji Qomariyah, S.Sos, Jumat, 5 Agustus 2022, Achmad Charris Zubair, M.A menyatakan, dinamika sosial, ekonomi, budaya kontemporer di Kotagede dan kota-kota lain di Yogyakarta mendorong perubahan tertentu, baik dari segi fungsi bangunan maupun perubahan penggunaan cagar budaya.
Baca Juga
- Perlu Kajian Lanjut Ganja Sebagai Obat
- UWM Menjawab Kebutuhan Ahli Hukum Bisnis Pariwisata
- Solo Artworks Exhibition (SAE) “I LOVE YOU” Karya Seni Perjuangan Transformasi Sosial
Menurut dia, perubahan apapun di kota bersejarah itu semestinya memperkuat latar belakang sosio-kultural dan ekonomi cagar budaya dan masyarakatnya.
“Cagar budaya terawat secara prinsip, tetapi juga bisa mensejahterakan masyarakatnya. Bagaimanapun juga kawasan cagar budaya itu adalah sesuatu yang menghidupkan masyarakat. Ini menjadi tantangan Ketika kita harus melestarikan cagar budaya sekaligus bagaimana cagar budaya menghadirkan nilai ekonomi atau mensejahterakan warganya.”
Ketika ditanya Puji Qomariyah, apa istimewanya Kotagede, dia menegaskan, Kotagedee sebagai salah satu kawasan cagar budaya di Yogyakarta memiliki sejarah panjang yang dapat dipergunakan untuk pembelajaran. Selain itu Kotagedhe juga memiliki kekhasan yang tidak dimiliki daerah lain.
Mantan dosen Filsafat UGM itu menyatakan, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 186 Tahun 2011, Kotagedhe merupakan salah satu dari enam kawasan cagar budaya disamping Keraton, Malioboro, Pakualaman, Kotabaru, dan Imogiri. Khusus Kotagede terdapat beberapa keunikan.
Tata ruang kota sangat unik karena merupakan bekas ibu kota kerajaan Mataram yang masih dapat dilacak walaupun sudah ditimbun oleh dinamisnya pergantian zaman. Kemudian kota ini memiliki keunikan arsitektur bangunan kuno karena di kawasan ini terdapat gaya arsitektur mulai dari hindu, jawa, jawa-islam, sampai dengan gaya indische-eropa.
Selanjutnya Kotagede juga memiliki potensi keunikan atas makanan dan kerajinan yang merupakan kemahiran masyarakat setempat.
“Kotagede tempat lahir maupun besar dari beberapa tokoh gerakan sosial mulai dari tingkatan lokal sampai nasional. Beberapa diantaranya adalah pahlawan nasional seperti Sulatn Agung dan Abdul Kahar Mudzakkir. Ada juga Menteri Agama RI pertama Prof. Dr. H. Mohammad Rasjidi.”
Ia menjelaskan lebih lanjut tentang konsep pembangunan Kotagedhe sebagai Ibu Kota Kerajaan. Konsep yang digunakan adalah filosofi catur gatra yang terdiri dari kraton, alun-alun, masjid, dan pasar.
Secara simbolik kraton merupakan pusat pemerintahan, alun alun merupakan pusat ruang publik masjid merupakan pusat spiritual, dan pasar yang merupakan pusat ekonomi. Konsep ini merupakan pemilahan wilayah agar dapat terintegrasi menjadi satu.
Ketika ditanya, apakah seluruh kawasan cagar budaya Kotagede bisa direvitalisasi total? Charris menyatakan, “Apakah itu memungkinkan? Saya pikir itu tidak mungkin”
Pembicaraan Achmad Charris Zubair dan Puji Qomariyah di podcast Kutunggu di Pojok Ngasem, dengan topik, “Alun-alun Kotagede, dimana?, yang tayang mulai Rabu, 10 Agustus 2022 .
red/mjb